1.      PENGERTIAN TAKHRIJ

a. Menurut Bahasa ( Etimologi)

      Jika kita melihat di beberapa kamus Arab maka kata  At Takhrij (التخريج) mempunyai banyak arti namun yang paling populer diantaranya adalah :

1). الأستنباط : mengeluarkan, seperti yang yang tersebut dalam kamus ; الأستخراج   dan   الأختراج , yang berarti mengeluarkan.(1 )

2).  التدريب:meneliti, seperti perkataan dalam kamus  خرجه فى الأدب فتخرج, yang        berarti خريج  dengan bentuk isim maf’ul (seperti bentuk kata : عنين) : sesuatu yang dikeluarkan. (2)

3)  التوجيه : mengarahkan, seperti perkataan :  خرج المسألة, yang berarti : mengarahkan masalah dari satu segi .

Dan perkataan : المخرج  yang berarti tempat keluar, seperti perkataan

 حسنا خرج مخرجا: keluar pada tempat yang baik , dan perkataan هذا مخرجه :inilah tempat keluarnya .  (3)

Dengan demikian perkataan Muhaddisin خرجه البخاري  yang berarti   اخرجه   : mengeluarkanya, adalah menyebutkan tempat keluarnya atau para rowi asalnya sebagai jalan keluar atau munculnya hadits.

 

 

 

  1. Al Qomus al Muhith 1: 192
  2. ibid
  3. Lisan Al Arab II : 249

 

 

 

 

4

 

b. Menurut Ishtilah ( Terminologi  )

 

            Tentang pengertian Al Takhrij secara terminology ditemukan beberapa pendapat dari para Muhadditsin namun yang paling populer diantaranya adalah Al Dilalah yang artinya yaitu menunjukan kitab – kitab sumber hadits, dan menyandarkanya dengan cara menyebutkan para periwayatnya ( rowi) yaitu para pengarang kitab – kitab sumber tersebut. Al Munawiy dalam Faydh al Qodir menjelaskan ungkapan dari Al Suyuthiy :

وبالغت فى تحرير التخريج

“ bahwa saya bersungguh – sungguh dalam meneliti dan menisbatkan hadits pada Mukhorrijnya ( para Imam Hadits ) “

Baik dari kitab Al Jami’, Sunan, atau Musnad. Dalam arti saya menyandarkan suatu hadits pasti setelah meneliti keadaan hadits itu dan keadaan para perowinya, dan saya tidak merasa puas dengan penisbatanya kepada orang yang bukan ahlinya, meskipun orang itu cukup disegani, seperti tokoh-tokoh tafsir. 1

Dalam bukunya Syeh Dr. Mahmud al Thohhan yang diterjemah oleh Al Ustad Imam Ghozali Said memberikan sebuah definisi yang lebih simple tentang Al Takhrij sebagai berikut :

الدلالة على موضع الحديث فى مصادره الأصلية التي أخرجته بسنده ثم بيان مرتبته عند الحاجة.

“ menunjukan sumber-sumber asli suatu hadits yang diriwayatkan lengkap dengan sanadnya, kemudian menjelaskan derajatnya jika diperlukan.”

 Penjelasan :

  • Menunjukan berarti menyebutkan kitab-kitab asli hadits tersebut .
  • Sumber-sumber asli hadits adalah : kitab – kitab hadits yang dihimpun oleh para pengarangnya dengan jalan ia menerima langsung dari guru-gurunya dan lengkap dengan sanad-sanadnya sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Seperti 6 kitab hadits yang masyhur. Muwatho’ malik, Musnad Ahmad, Mustadrok al Hakim, Mushonnah Abdur Rozzaq, dan lain – lain .

 

  1. Faydh al Qodir, Syarah Al Jami’ al Shoghir I : 20

5

2.       METODOLOGI  TAKHRIJ

Untuk dapat menelusuri suatu hadits dari kitab – kitab aslinya, tentunya terlebih dahulu harus diperhatikan keadaan suatu hadits yang dimaksud, yaitu dengan cara memperhatikan sahabat yang meriwayatkan, melihat pokok bahasanya, lafadz – lafadznya, atau dengan memperhatikan sifat – sifat tertentu dalam sanad atau matanya.

Menurut para Ahlil Hadits ada lima metode dalam mentakhrij (menelusuri sumber hadits) diantaranya adalah :

  1. Dengan mengetahui sahabat yang meriwayatkan hadits (Rowi shohabiy)
  2. Dengan mengetahi lafadz pertama dari matan Hadits.
  3. Dengan mengetahui lafadz matan hadits yang jarang terungkap
  4. Dengan mengetahui pokok bahasan hadits, atau sebagianya jika mengandung beberapa pembahasan,
  5. Dengan meneliti keadaan hadits, baik dalam sanad maupun matanya.

Lebih jelasnya lima metode diatas adalah sebagai berikut.

a. Mengetahui sahabat Yang meriwayatkan Hadits.

            Metode ini dapat diterapkan selama nama sahabat yang meriwayatkan hadits dapat diketahui, jika tidak maka metode ini tidak dapat diterapkan.

Untuk menerapkan metode ini kita dapat menggunakan tiga macam kitab :

  1. Kitab – kitab Musnad .

Yaitu kitab hadits yang disusun berdasarkan nama-nama sahabat atau kitab yang menghimpun hadits- hadits sahabat.

Kitab Musnad yang ditulis oleh para ahli hadits jumlahnya mencapai seratus kitab bahkan lebih, namun menurut Al Kattaniy dalam ar Risalah al al Mustathrofah hanya berjumlah 82 kitab, selain itu masih banyak lagi.1

Diantara kitab – kitab Musnad adalah :

·        Musnad Ahmad bin Hambal (241H)

·        Musnad Abu Bakar  Abdulloh bin al Zubayr al Humaidiy (219 H)

·        Musnad Abu Dawud Sulaiman bin Dawud al Thoyalisiy ( 204 H),dll.

 

1.      Al Risalah al Mustattharafah, 67

6

2.      Kitab al Mu’jam.

Menurut para Muhadditsin yaitu kitab – kitab yang disusun berdasarkan Musnad-musnad sahabat, guru-gurunya, Negara atau yang lain, namun pada umumnya  adalah berdasarkan nama-nama sahabat melalui urutan huruf hijaiyah.

Diantara kitab-kitab Mu’jam yang masyhur adalah :

·        Al Mu’jam al Kabir, kaya Abu al Qosim Sulaiman bin Ahmad Al Thobroniy (360 H) 1.

Yang disusun berdarkan musnad sahabat, terdiri dari 60.000 hadits.

·        Al Mu’jam al Ausath , juga karya Abul Qosim

Yang tersusun berdasarkan nama guru-guru beliau hamper mencapai 2000 orang, memuat 30.000 hadits.

·        Al Mu’jam al Shoghir, juga Abul Qosim

Juga berdasarkan guru-guru beliau mencapai 1000 orang, untuk satu guru diambil satu hadits.

3.      Kitab – kitab  Athraf

Yaitu kitab hadits yang disusun berdasarkan (Thorf) ujung matan hadits yang dapat menunjukan keseluruhanya, kemudian menyebutkan sanad-sanadnya baik secara menyeluruh maupun penisbatan pada kitab-kitab tertentu.jumlah kitab-kitab tersebut banyak sekali namun yang masyhur diantaranya adalah :

·        Athrof al Shohihain, karya Abu Mas’ud Ibrohim bin Muhammad al Dimasqiy (410 H)

·        Athrof al Shohihain, karya Abu Muhammad kholaf bin Muhammad al Wasithiy (410 H)

·        Al Asrof ‘la al Ma’rifah al Athrof, tentang Athraf, sunan empat, karya al Hafidz Abul Qosim Ali bin al Hasan popular dengan Ibnu Asaakir al Dimsqiy (571 H), dll.

 

 

1.       beberapa tahun lalu Departemen Iraq menerbitkan kitab ini dalam 25 Jilid

 

7

b.  Mengetahui Lafadz pertama Matan Hadits.

     Metode ini dapat digunakan ketika lafadz pertama hadits dapat diketahui jika sebaliknya maka metode ini juga akan sia-sia belaka.

Ada tiga macam kitab yang dapat dipakai acuan untuk dapat menggunakan metrode ini :

1.      kitab-kitab hadits yang mashur dikalangan masyarakat

2.      kitab – kitab hadits yang disusun berdasarkan huruf hijaiyah

3.      Kitab – kitab Miftah (kunci) dan Fahras (indeks)

Diantaranya adalah :

·        Kitab Masyhur, Al Tadzkiroh al Ahadits al Musytahiroh, karya Badruddin bin Muhammad bin Abdulloh al Zarkasy (974 H)

·        Kitab disusun berdasarkan Hijaiyah, Al Jami’us al Shoghir Min Haditsil Basyir al Nadzir, karya Jalaluddin Abdur Rahman bin Abu baker Al Suyuthiy (911 H), memuat sekitar 10.000 hadits.

·        Kitab kunci, Miftahus Shohihain, karya al Tawqodiy. dll.

 

c. Mengetahui Redaksi Matan Hadits yang jarang di gunakan.

      Dalam menggunakan metode ini, kita dapat menggunakan kitab al Mu’jam al Mufahros li Al fadz al Hadits al Nabawiy.

 

d. Menggunakan pokok bahasan Hadits.

      Metode ini lebih mudah dibanding dengan metode yang lain, namun dalam menggunakan metode ini seseorang harus memehami pembahasan yang terdapat dalam hadits yang dimaksud atau minimal sebagian darinya manakala hadits tersebut memuat beberapa pembahasan, kitab – kitab yang digunakan dalam metode ini terbagi menjadi tiga macam;

1.      Kitab yang membahas masalah – masalah keagamaan secara menyeluruh,seperti masalah aqidah, hukum, akhlakyang berhubungan dengan tafsir, tarikh, dll ;

ü      Al Jami’ al Shohih, karya al Bukhoriy

ü      Al. Jami’ al Shohih, karya Muslim

ü      Jami’ Abdurrozzaq, dll.

8

2.      Kitab yang membahas melalui sistematika Fiqh, diantaranya ;

a.      Kitab As Sunan seperti, Sunan Abu Dawud, Sunan Nasa’I, Sunan  Ibnu Majah, dll.

 

3.      Kitab Hadits yang hanya membahas satu aspek keagamaan, diantaranya adalah kitab ;

a.      Ajzza’ seperti, Juz Hadits riwayat Abu hanifah dari salah seorang sahabat. Karya Abu Ma’syar Abdul karim bin Abdus Shomat at Thobary (178 H)

b.      Al Targhib dan Al Tarhib,

c.       Al zuhdu Wa al Adabu wa Al Akhlaku.

 

e. Meneliti Sanad dan Matan Hadits

      Yang dimaksud dengan metode ini adalah mempelajari sedalam dalamnya keadaan matan dan sanad hadits. Kemudian mencari sumbernya dalam kitab –kitab yang khusus membahas keadaan matan sanad hadits tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

9

3. TAKHRIJ MENGGUNAKAN AL MU’JAM AL MUFAHRAS LI ALFADZ AL HADITS

     

      Sebelum menginjak pada pembahasan tentang metodologi kitab tersebut, ada baiknya kita mengetahui latar belakang kitab tersebut.

Kitab tersebut memuat daftar redaksi (matan) hadits dalam sembilan kitab yaitu kitab sunan enam, Muwatho’ malik, Musnad Ahmad dan Musnad al Darimy, yang disusun oleh sekelomok orientalis dan diterbitkan oleh salah seorang dari mereka, yaitu DR. ARNDGAN WENSINCK (1939), salah seorang dosen bahasa Arab di Universitas Leiden, dan di cetak oleh percetakan BERLIN di Leiden Belanda. Muhammad Fuad Abdul Baqy adalah orang yang berjasa membantu mereka untuk mentakhrij hadits dan menerbitkan kitab ini, dan proyek ini dilakukan atas bantuan material dari lembaga keilmuan Inggris, Denmark, Swedia, Belanda, UNESCO, Alexander Pasa, Lembaga Ilmiyah dan Penelitian Belanda dan lembaga – lembaga keilmuan Internasional lainya. Sayangnyakitab ini tidak mencantumkan mukaddimah yang menjelaskan sistematika penyusunanya. Padahal masalah itu sangat dibutuhkan. Hanya saja pada awal jilid ketujuh dicantumkan beberapa petunjuk dan penjelasan tentang susunan lafadz, dan pengertianya, lengkap dengan petunjuk praktis tentang cara penggunaanya, namun itu masih belum lengkap.

      Sistematika kitab ini mendekati sistematika kitab-kitab mu’jam lughot, namun tidak berdasarkan urutan huruf, nama para tokoh, dan bentuk kata kerja (fi’il), yang biasa digunakan, seperti   قال  ,  جاء serta semua katayang terpatron dari keduanya, demikian pula kata-kata yang lain. Ketika dibutuhkan beberapa hadits yang sama pembahasanya, sering kali berpindah pada pembahasan yang lain padahal bahasan yang satu belum selesai, inilah yang menjadi sebaba adanya sebuah penilaian bahwa kitab mu’jam ini masih penuh dengan kekurangan, dan juga penulisnya tidak membuat daftar kata-kata hadits dari kitab-kitab yang semestinya ada. Sistematika seperti ini jika terlalu banyak akan mempersulit, menyita banyak waktu, membuat bosan, dan ironisnya akan mengurangi semangat untuk meneliti hadits, bahkan terkadang seseorang harus mencari 50 pembahasan atau lebih untuk untuk mencari sebuah hadits.

10

Semisal mencari “Qootala” harus melihat terlebih dahulu 68 bahasan yang diantaranya pembahasan “al Qital” sementara pembahasan yang lain berbeda. (lihat juz V : 294).

Dalam penggunaan kitab Mu’jam diatas ada beberapa petunjuk yang harus di ketahui diantaranya :

a.       Kode – kode yang digunakan dari kitab kitab yang menjadi referensi.

Ø    خ    untuk kitab Shohih Bukhoriy

Ø      م     untuk Shohih Muslim

Ø    ت    untuk Jami’ al Turmudziy

Ø      د     untuk Sunan Abu Dawud

Ø      ن    untuk Sunan al Nasa’i

Ø      جه   untuk sunan Ibnu Majah

Ø    ط     untuk Muwatrho’ Malik

Ø    حم    untuk Musnad Imam Ahmad

Ø    دي   untuk Musnad al Darimiy.

Berikut contoh dari masing – masing kode diatas sebagaimana dalam Kitab Mu’jam tersebut :

15 ت ادب       Bab XV , tentang (kitab) al Adab dalam Shohih Turmudziy

31 جه تجارة    Bab XXXI, tentang (kitab) perdagangan, dalam Sunan Ibnu Majah

75,4   حم     Halaman 175, jilid IV dalam Musnad Imam Ahmad

16,3  خ شركةBab III dan XVI, tentang (kitab) perseroan dalam Shohih Bukhoriy.

72د طهارة     Bab XXII, tentang kitab bersuci, dalam Sunan Abu Dawud. 1

 

1,  DR. Mahmud At Tahhan.Ushul al Takhrij wa Dirosah al Asaanid.Maktabah al Ma’arif, Riyadh, Cet II 1412/1991

 

 

 

 

 

 

12

BAB  III

PENUTUP

 

A.     Kesimpulan.

      Dari paparan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa At Takhrij adalah memberikan sebuah petunjuk  dalam meriwayatkan sebuah hadits tentang sumber-sumber aslinya (kitab kitab asalnya) dan sanadnya (jalur periwayatanya) serta derajat nya semisal Shohih, hasan atau dho’if jike diperlukan.

Adapun metodologi at Takhrij  atau dalam menelusuri hadits ada 5 cara sebagaimana telah tersebut diatas.

Sedangkan sarana pembantunya ada tiga tipe kitab hadits yang dapat digunakan  sebagaimana penjelasan diatas.

Dengan teori Takhrij ini kita dapat menelusuri hadits dari sumber aslinya dan sekaligus kwalitas hadits tersebut (Shohih, hasan dan Dho’if) serta layak tidaknya untuk diriwayatkan.

 

B. Saran

      Tentunya makalah ini masih jauh dari nillai baik dan sempurna oleh karena itu kritik dan saran selalu kami harap dari siapa saja yang membacanya, mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat didunia dan akhirat, Amin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

13

DAFTAR PUSTAKA

 

 

1.      DR. Mahmud At Tahhan.Ushul al Takhrij wa Dirosah al Asaanid.Maktabah al Ma’arif, Riyadh, Cet II 1412/1991

2.      Al Risalah al Mustattharafah, 67

3.      Faydh al Qodir, Syarah Al Jami’ al Shoghir I : 20

4.      Lisan Al Arab II : 249

5.      Al Qomus al Muhith 1: 192

6.      Imam Ghozali Said, Metodologi Kitab Kuning : melacak sunber, Menelusuri Sanad dan menilai hadits. Diantama. Cet II. Surabaya.