Ciri Guru Madrasah Profesional

Untuk mendukung pencapaian kompetensi yang ditetapkan dalam kurikulum PAI (qur’an hadits, fiqih, aqidah akhlaq, sejarah kebudayaan Islam dan bahasa arab) di tingkat madrasah, diperlukan dukungan dari berbagai pihak yang berkepentingan dalam pendidikan di madrasah, baik pengelola madrasah, orang tua siswa, tokoh masyarakat, siswa dan terutama guru. Dalam hal ini guru menjadi penentu dalam mencapai keberhasilan pembelajaran, sebab ia dituntut untuk melakukan kreasi agar tercipta suasana belajar yang efektif. Untuk itu, diperlukan tenaga guru yang profesional dan mempunyai komitmen tinggi dalam bidang pendidikan di madrasah. Dengan kata lain, dibutuhkan guru yang profesional, dengan ciri-ciri sebagai berikut [1]

  1. Selalu membuat perencanaan konkrit dan detail yang siap untuk dilaksanakan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Sebelum mengajar guru harus sudah mempersiapkan diri sebaik mungkin baik persiapan fisik, mental, maupun materi tentang mata pelajaran yang diampu. Persiapan fisik berupa penampilan jasmani balk berupa pakaian, kerapian dan kebugaran jasmani. Persiapan mental mencakup sikap batin guru untuk mempunyai komitmen dan mencintai profesi pendidik untuk membantu siswa mencapai taraf kedewasaan dan mengoptimalkan potensi yang dimiliki. Sedangkan kesiapan materi meliputi penguasaan bahan siswaan yang akan disampaikan kepada siswa. Penguasaan ini tercermin dari pemahaman yang utuh tentang materi pokok yang ada dalam kurikulum dan diperkaya dengan wawasan keilmuan mutakhir. Dengan demikian. guru diharapkan tidak sekedar menyampaikan materi pokok yang tertuang dalam kurikulum baku, namun harus dikembangkan dan diperkaya dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
  2. Berkehendak mengubah pola pikir lama menjadi pola pikir baru yang menempatkan siswa sebagai arsitek pembangun gagasan dan guru berfungsi untuk “melayani” dan berperan sebagai mitra siswa supaya peristiwa belajar bermakna berlangsung pada semua individu. Dalam Islam siswa disebut dengan terma “thalib yang artinya orang yang aktif mencari ilmu pengetahuan. Untuk itu, guru perlu mengkondisikan kegiatan pembelajaran yang memungkinkan siswa aktif mencari dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Hal ini dapat terjadi jika ditunjang oleh penerapan strategi belajar yang mendorong siswa terlibat secara fisik dan psikis tentang proses pembelajaran.
  3. Bersikap kritis dan berani menolak kehendak yang kurang edukatif. Guru diharapkan mengembangkan dan mengelaborasi sendiri materi pokok yang ditetapkan dalam kurikulum. Untuk itu, sikap kritis harus dimiliki oleh guru yang tercermin antara lain dari praktek pembelajaran yang mengaitkan dengan problem realitas yang ada di sekitarnya. Selain itu, guru juga diharapkan berani memberikan masukan tentang praktek pendidikan di sekitarnya, terutama di lingkungan sekolahnya, yang tidak mencerminkan praktek pendidikan, misalnya praktek pendidikan yang tidak membuat siswa aktif dan kreatif malah mengekang siswa melalui stratagi pembelajaran yang diterapkan para guru lain.
  4. Berkehendak mengubah pola tindakan dalam menetapkan peran siswa, peran guru dan gaya mengajar. Peran siswa digeser dari peran sebagai “konsumen” gagasan, seperti menyalin, mendengar, menghafal, ke peran sebagai “produsen” gagasan, seperti bertanya, meneliti dan mengarang. Peran guru harus berada pada fungsi sebagai fasilitator (pemberi kemudahan peristiwa belajar) dan bukan pada fungsi sebagai penghambat peristiwa belajar. Gaya mengajar lebih difokuskan pada model pemberdayaan dan pengkondisian daripada model latihan (drill) dan pemaksaan (indoktrinasi). Hal ini akan terwujud jika guru mempunyai pemahaman atau kesadaran tentang hakikat pendidikan, yakni sebagai proses memanusiakan manusia (siswa) dengan cara mengoptimalkan potensi yang dimiliki. Untuk itu, kegiatan pembelajaran yang diterapkan guru harus selalu mempertimbangkan kondisi siswa, bukan memaksakan kehendak atau persepsi guru yang kadang tidak sesuai dengan kecenderungan siswa.
  5. Berani meyakinkan kepala sekolah, orang tua dan masyarakat agar dapat berpihak pada mereka terhadap beberapa inovasi pendidikan yang edukatif yang cenderung sulit diterima oleh orang awam dengan menggunakan argumentasi yang logis dan kritis. Dalam sistem Kurikulum Timgkat Satuan Pendidikan yang sbenarnya merupakan penjabaran/pengembangan dari kurikulum sebelumnya yang berbasis kompetensi, keberpihakan pada kepentingan siswa perlu ditekankan dalam kegiatan pembelajaran, dalam pengertian bahwa semua aktifitas pembelajaran pada dasarnya diperuntukkan untuk kemanfaatan dan kebermaknaan siswa. Untuk itu, guru dituntut aktif dan kreatif mengembangkan dan menciptakan kegiatan pembelajaran yang memungkinkan siswa aktif. Kegiatan pembelajaran ini tidak hanya dipahami sebatas yang berlangsung dl dalam kelas, tapi juga di luar kelas. Sebagai contoh, kegiatan pembelajaran untuk mata pelajaran qur’an hadits tidak akan berjalan secara maksimal ketika hanya berlangsung di ruang kelas, namun harus dikondisikan juga di luar kelas, sebab qur’an hadits bukan menekankan aspek kognitif yang cukup diberikan di kelas, namun harus dipraktekkan. Karena itu, upaya menjalin sinergi perlu diciptakan oleh guru sehingga ada keterpaduan antara yang disampaikan di kelas dengan yang dipraktekkan siswa di luar kelas, terutama di keluarga dan masyarakat.

6.      Bersikap kreatif dalam membangun dan menghasilkan karya pendidikan seperti pembuatan alat bantu belajar, analisis materi pembelajaran, penyusunan alat penilaian yang beragam, perancangan beragam organisasi kelas dan perancangan kebutuhan kegiatan pembelajaran lainnya. Untuk mengoptimalkan kegiatan belajar mengajar, guru perlu memanfaatkan sumber belajar yang ada di sekitar sekolah, baik sumber belajar yang dirancang khusus untuk tujuan pembelajaran (by design) maupun sumber belajar yang sudah tersedia secara alami yang tinggal dimanfaatkan oleh guru (by utilization)[2]

Guru bukan pedagang. Itu jelas, karena seorang pedagang yang baik hanya punya satu dorongan, yaitu memuaskan pelanggan agar mendapatkan keuntungan bagi dirinya. Prinsip pembeli adalah raja, tidak berlaku dalam pekerjaan profesional keguruan. Ini terkait dengan syarat profesi ketiga, yaitu: kewenangan atas klien (authority over clients).

Karena memiliki pendidikan formal dan nonformal ekstensif, para profesional mengakui dan diakui memilik pengetahuan yang tak sesiapa pun di luar profesi yang bersangkutan dapat memahami secara penuh pengetahuan tersebut. Karena pengakuan demikian, maka seorang profesional melakukan sendiri proses asesmen kebutuhan, diagnosis masalah, hingga pengambilan tindakan yang diperlukan beserta tanggung-jawab moral dan hukumnya. Seperti seorang dokter yang tidak bisa didikte oleh seorang pasien untuk memberikan jenis perlakuan dan obat apa, demikian pula tak seorang peserta didik atau bahkan orangtua mereka yang berhak mendikte materi, metode dan penilaian seorang guru.

Guru profesional tidak boleh terombang-ambing oleh selera masyarakat, karena tugas guru membantu dan membuat peserta didik belajar. Perlu diingat, seorang guru atau dosen memang tidak diharamkan untuk menyenangkan peserta didik dan mungkin orangtua mereka. Namun demikian, tetap harus diingat bahwa tugas profesional seorang pendidik adalah membantu peserta didik belajar (to help the others learn), yang bahkan terlepas dari persoalan apakah mereka suka atau tidak suka.

Syarat terakhir, pekerjaan profesional juga ditandai oleh orientasinya yang lebih kepada masyarakat daripada kepada pamrih pribadi (community rather than self-interest orientation). Pekerjaan profesional juga dicirikan oleh semangat pengutamaan orang lain (altruism) dan kemanfaatan bagi seluruh masyarakat ketimbang dorongan untuk memperkaya diri pribadi. Walaupun secara praktik boleh saja menikmati penghasilan tinggi, bobot cinta altruistik profesi memungkinkan diperolehnya pula prestise sosial tinggi.

Adapun karakteristik profesional minimum guru, berdasarkan sintesis temuan-temuan penelitian, telah dikenal karakteristik profesional minimum seorang guru, yaitu:

1.      mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya,

2.      menguasai secara mendalam bahan belajar atau mata pelajaran serta cara pembelajarannya,

3.       bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai cara evaluasi,

4.       mampu berfikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belajar dari pengalamannya, dan

5.       menjadi partisipan aktif masyarakat belajar dalam lingkungan profesinya.[3]

Secara substantif, sejumlah karakteristik tersebut sudah terakomodasi dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru. Beberapa di antaranya adalah:

1.      menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, sosial, kultural, emosional, dan intelektual,

2.      menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik,

3.      mengembangkan kurikulum yang terkait dengan bidang pengembangan yang diampu,

4.      menyelenggarakan kegiatan pengembangan yang mendidik,

5.      memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan penyelenggaraan kegiatan pengembangan yang mendidik, dan

6.       memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki.

Mencermati sejumlah materi sajian dalam kegiatan pendidikan dan pelatihan guru dalam jabatan ini, tampak jelas bahwa penekanan yang diberikan pada aspek kompetensi, sedangkan aspek-aspek lain dari penguatan profesi belum cukup tampak dalam kurikulum pendidikan dan pelatihan ini. Karena itu, saya berharap agar sejumlah aspek yang masih tercecer bisa diagendakan di luar kurikulum tertulis (written curriculum), agar sosok profesional guru madrasah ibtidaiyah atau sekolah dasar yang dihasilkan merupakan sosok profesional yang utuh.

Akhirnya, memang masih cukup panjang dan berliku jalan untuk menegakkan profesi keguruan. Selain keharusan untuk menuntaskan persyaratan kualifikasi, kompetensi dan sertifikasi, masih ada tantangan yang lebih berdimensi legal dan moral. Namun demikian, satu atau dua langkah sudah berhasil dilakukan. Kalau dari perspektif kemauan politik sudah pengakuan terhadap profesi guru dan dosen sudah diundangkan, maka dari perspektif guru sendiri juga harus ada usaha untuk senantiasa memantapkan profesinya.

Kalau transformasi organisasi profesi berhasil dilakukan, maka letak kendali (locus of control) profesi keguruan, seperti kewenangan sertifikasi, evaluasi dan pemberian sanksi, juga bergeser dari ranah politik pemerintah ke ranah profesi keguruan. Karena pergeseran letak kendali dari pemerintah ke organisasi profesi menyangkut kewenangan dan sumberdaya untuk sertifikasi, akreditasi, dan evaluasi, maka persoalan menjadi sangat berdimensi politik serta sarat dengan konflik kepentingan.

Dari perspektif struktur kekuasaan, mungkinkah para pejabat birokrasi pendidikan yang masih berkecenderungan senantiasa memperluas bidang kekuasaan, merelakan terjadinya redefinisi kekuasaan menjadi lebih terbatas? Atau, bisakah watak birokrasi pendidikan kita yang senantiasa ingin memusatkan kekuasaan pada sekelompok kecil orang, diubah agar terjadi redistribusi kekuasaan kepada masyarakat sipil seperti organisasi profesi keguruan?

Perspektif kultur masyarakat, bisakah kita mengubah mentalitas masyarakat berorientasi serba-negara (state-oriented society) ini menjadi masyarakat yang berorientasi pada jasa nyata dan prestasi (merit and achievement-oriented society)? Beranikah para guru mengambil-alih kembali (reclaiming) sebagian kewenangan yang sudah cukup lama kita serahkan kepada negara dan atau pemerintah?

Bila jawaban positif kita berikan, maka sudah saatnya kita menyiapkan kata perpisahan kepada sertifikasi, akreditasi, dan evaluasi oleh pemerintah. Sudah saatnya organisasi profesi keguruan melakukan sertifikasi profesi keguruan. Sudah saatnya akreditasi sekolah dan perguruan tinggi dilakukan oleh lembaga independen. Sudah saatnya pula pelaksanaan dan keputusan hasil evaluasi peserta didik dilakukan oleh para pendidik profesional.[4]


[1] Tim Dirjen Binbaga Islam Departemen Agama RI, Kurikulum Berbasis Kompetensi : Kegiatan Pembelajaran Qur’an Hadits Madrasah Aliyah, (Jakarta : Dirjen Binbaga Islam Depag RI, 2003), hal. 14-16..

[3] Supriadi, D. Mengangkat Citra dan Martabat Guru. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1998.

AKAD ATAU TRANSAKSI

 Secara etimologi akad berarti  ikatan, yaitu  ikatan antara ujung sesuatu (dua perkara), baik ikatan secara nyata maupun ikatan secara abstrak, dari satu atau dua sisi. [1]

      Sedangkan menurut terminologi, akad dapat ditinjau dari dua segi, yaitu secara umum dan khusus.

Pengertian secara umum
      Secara umum, pengertian akad dalam arti luas hampir sama dengan pengertian akad dari segi bahasa. Menurut pendapat ulama Syafi’iyah, Malikiyah, dan Hanabilah, akad adalah segala sesuatu yang  dikerjakan seseorang berdasarkan keinginan sendiri, seperti wakaf, talak, pembebasan atau sesuatu yang pembentukannya memmbutuhkan keinginan dua orang seperti jual-beli, sewa-men’yewa,perwakilan,dan gadai.[2]

Pengertian khusus

      Pengertian akad secara khusus adalah perikatan (yang ditetap­knn dengan) ijab dan qabul berdasarkan ketentuan syara yang berdampak pada objeknya. Contoh, ijab adalah pernyataan seorang penjual, “Saya telah menjual barang ini kepadamu” atau sejenisnya. Contoh qabul: “Saya belibarangmu” atau sejenisnya. Dengan demikian, ijab qabul adalah adalah suatu  perbuatan atau pernyataan untuk menunjukkan suatu keridhaan dalam berakad di antara dua orang atau lebih. Berdasarkan pengertiaan di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimakdus dengan akad adalah suatu yang sengaja dilakukan oleh kedua belah pihak berdasarkan persetujuan masing– masing.[3]

PEMBENTUKAN AKAD

ü      RUKUN AKAD


     Mengenai rukun  akad terdapat perbedaan pendapat dikalangan ulama. Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa rukun aqad adalah ijab dan qabul. Sedangkan ulama Hanafiyah berpendapat  bahwa akad memiliki tiga rukun, yaitu[4] :

1.      Aqid ( orang yang beraqat ) terkadang masing-masing pihak terdiri dari seorang saja, dan kadang kala dari beberapa orang.

2.      Ma’qud Alaih (sesuatu yang diaqadkan); ma’qud ‘alaih atau mahallul aqdi adalah benda yang menjadi objek aqad, seperti benda-benda yang dijual dalam aqad ba’i (jual beli) yang dihibahkan dalam aqad hibah, yang digadai dalam akad rahn, dan lain-lain.

3.       Shighat al-aqd, yaitu ijab dan qabul ucapan yang menunjukan kehendak kedua belah pihak.

ü     UNSUR-UNSUR AKAD
       Unsur akad adalah sesuatu yang merupakan pembentukan adanya akad, yaitu[5]:

  • Sighat al-‘aqd, yaitu sesuatu yang disandarkan dari dua belah  yang berakad yang menunjukkan atas apa yang ada di hati  keduanya tentang terjadinya suatu akad. Hal ini dapat diketahui dengan ucapan, perbuatan, isyarat dan tulisan. Shighat tersebut  disebut ijab dan qabul. Metode shighat atau ijab qabul dalam akad dapat diLakukan dengan berapa cara:

1.      Akad dengan lafad (ucapan); akad dengan lafad yang dipakai untuk ijab dan qabul harus jelas pengertiannya, harus bersesuaian antara ijab dan qabul, dan shighat ijab dan qabul  harus sungguh-sungguh atau tidak diucapkan secara ragu-ragu. Karenanya, apabila shighat al- ‘aqd tidak menunjukkan kesungguhan akad, maka menjadi tidak sah. Atas dasar inilah para fuqaha berpendapat bahwa berjanji menjual belum merupakan akad penjualan, dan orang yang berjanji itu tidak dapat dipaksa menjualnya.

2.      Akad dengan tulisan; dibolehkan akad dengan tuLisan, baik bagi  mereka yang mampu berbicara maupun tidak, dengan ·syarat  tulisan tersebut harus jelas, tampak dan dapat difahami oleh kedua belah pihak. Sebab tulisanha sebagaimana  dalam qaidah fiqhiyah, “tulisan bagaikan ucapan”. Ulama  Syafi’iyah dan Hanabilah[6] berpendapat bahwa akad dengan  tulisan adalah sah jika kedua belah pihak yang berakad tidak hadir, namun jika yang akad hadir, tidak diperkenankan menggunakan tulisan, sebab tulisan tidak dibutuhkan.

3.      Akad dengan perbuatan. Dalam akad terkadang tidak digunakan ucapan, tetapi cukup dengan perbuatan yang menunjukkan saling meridhai. Hal ini sangat umum terjadi pada zaman sekarang. Dalam menanggapi persoalan ini, para ulama berbeda pendapat. Ulama Hanafiyah[7] dan Hanabilah[8] membolehkan akad dengan perbuatan terhadap barang-barang yang sudah sangat diketahui secara umum oleh manusia. Jika belum diketahui secara umum, akad seperti itu dianggap batal. Mazhab Maliki[9] membolehkan akad dengan perbuatan jika jelas menunjukkan kerelaan, baik barang ter-sebut diketahui secara umum maupun tidak, kecuali dalam pernikahan. Ulama Syafi’iyah, Syiah, dan Dzahiriyah[10] berpendapat bahwa akad dengan perbuatan tidak dibenarkan karena tidak ada petunjuk yang kuat terhadap akad tersebut. Selain itu, keridhaan adalah sesuatu yang samar, yang tidak dapat diketahui kecuali dengan ucapan. Namun para ulama sepakat bahwa akad dalam per­nikahan hanya dibolehkan menggunakan ucapan. Begitu pula dalam talak dan ruju’ diutamakan dengan tulisan dibandingkan dengan isyarat apabila tidak mampu berbicara

4.      Akad dengan isyarat. Bagi orang yang mampu berbicara tidak dibenarkan akad dengan isyarat, melainkan harus dengan menggunakan lisan, tulisan atau perbuatan. Adapun bagi mereka yang tidak dapat berbicara, boleh menggunakan isyarat, tetapi jika mampu menulis dan bagus, maka dianjurkan atau lebih baik dengan tulisan.

·        Al – ‘Aqid (pelaku), yaitu orang yang melakukan akad. Keberadaannya adalah sangat penting sebab tidak dapat dikata-kan akad  jika tidak ada ‘aqid. Begitu pula tidak akan terjadi ijab dan  qabul tanpa adanya ‘aqid. Secara  umum ‘aqid disyaratkan harus ahli dan memiliki kemampuan  untuk melakukan akad atau mampu menjadi pengganti orang lain  jika ia menjadi wakil. Ulama  Malikiyah[11] dan Hanafiyah mensyaratkan ‘aqid harus berakal, yakni sudah mumayyiz, anak yang agak besar yang membicarakannya dan jawaban yang dilontarkan dapat dipahami, serta berumur minimal 7 tahun. Oleh karena itu, dipandang tidak sah akad yang dilakukan oleh anak kecil yang belum mumawiz,orang gila dan lain-lain. Adapun  ulama Syafi’iyah dan Hanabilah mensyaratkan ‘aqid harus baligh, berakal, mampu memelihara agama dan hartanya. Dengan demikian, ulama Hanabilah membolehkan seorang anak kecil  membeli barang sederhana atas izin walinya.

·        AI Ma’qud’ Alaih (Mahal al- ‘Aqad), yaitu objek akad atau benda yang dijadikan akad, bentuknya tampak dan membekas. Barang tersebut dapat berbentuk harta benda, seperti barang dagangan. Berupa benda bukan harta, seperti akad pernikahan; dan dapat pula dalam bentuk suatu kemanfaatan, seperti dalam masalah upah mengupah, dan lain-lain.[12] Dalam Islam, tidak semua barang dapat dijadikan objek akad, misalnya minuman keras. Oleh karena itu, para fuqaha menetapkan beberapa syarat dalam objek akad berikut ini :

1.      Ma’qud ‘alaih (barang) harus ada ketika akad. Maka tidak sah akad seperti menjual anak kambing yang masih dalam kandungan induknya atau membeli sesuatu yang masih dalam tanah.

2.      Ma’qud ‘alaih harus masyru’ (sesuai dengan ketentuan syara), Ulama’ fiqih sepakat[13] bahwa barang yang di jadikan akad harus sesuai dengan ketentuan syara’.maka tidak sah akad atas barang yang diharamkan syara, seperti bangkai, minuman keras/khamar, dan lain­-lain.

3.      Ma’qud ‘alaih dapat diberikan waktu akad. Tidak seperti jual beli burung yang masih di udara, harta yang diwakaf­kan, dan lain-lain, maka tidak dipandang terjadi akad.

4.      Ma’qud ‘alaih harus diketahui oleh kedua pihak yang akad.

5.      Ma’qud ‘alaih harus suci, yaitu tidak najis dan mutanajis (terkena najis), seperti anjing, bangkai, darah, dan lain­lain. Namun ulama Hanafiyah[14] tidak menetapkan syarat ini.

 

ü     Syarat Akad

1.      Syarat terjadinya akad

        Syarat terjadinya akad adalah segala sesuatu yang disyaratkan untuk terjadinya akad secara syara’. Syarat ini terbagi menjadi dua bagian yakni umum dan khusus. Syarat akad yang bersifat umum adalah syarat–syarat akad yang wajib sempurna wujudnya dalam berbagai akad.

2.      Syarat Pelaksanaan akad

         Dalam pelaksanaan akad, ada dua syarat yaitu kepemilikan dan kekuasaan. Kepemilikan adalah sesuatu yang dimiliki oleh seseorang sehingga ia bebas beraktivitas dengan apa-apa yang dimilikinya sesuai dengan aturan syara’. Adapun kekuasaan adalah kemampuan seseorang dalam ber-tasharuf sesuai dengan ketentuan syara’.

 

 

 

3.      Syarat Kepastian Akad (luzum)

        Dasar dalam akad adalah kepastian. Seperti contoh dalam jual beli, seperti khiyar syarat, khiyar aib, dan lain-lain. Jika luzum Nampak maka akad batal atau dikembalika.

ü     Kedudukan, Fungsi, Ketentuan dan Pengaruh Aib dalam Akad

         Kedudukan dan fungsi akad adalah sebagai alat paling utama dalam sah atau tidaknya muamalah dan menjadi tujuan akhir dari muamalah.

         Akad yang menyalahi syariat seperti agar kafir atau akan berzina, tidak harus ditepati. 

         Tidak sah akad yang disertai dengan syarat. Misalnya dalam akad jual beli aqid berkata: “Aku jual barang ini seratus dengan syarat dengan syarat kamu menjual rumahmu padaku sekian…,” atau “aku jual rumah barang ini kepadamu tunai dengan harga sekian atau kredit dengan harga sekian”, atau “aku beli barang ini sekian asalakan kamu membeli dariku sampai dengan jangka waktu tertentu sekian”. 

         Akad yang dapat dipengaruhi Aib adalah akad akad-akad yang mengandung unsur pertukaran seperti jual beli atau sewa. 

         Cacat yang karenanya barang dagangan bisa dikembalikan adalah cacat yang bisa mengurangi harga/nilai barang dagangan, dan cacat harus ada sebelum jual beli menurut kesepakatan ulama. Turunnya harga karena perbedaan harga pasar, tidak termasuk cacat dalam jual beli. 

         akad yang tidak dimaksudkan untuk pertukaran seperti hibah tanpa imbalan, dan sedekah, tak ada sedikitpun pengaruh aib di dalamnya. 

         Akad tidak akan rusak/ batal sebab mati atau gilanya aqid kecuali dalam aqad pernikahan. 

         Nikah tidak dikembalikan (ditolak) lantaran adanya setiap cacat yang karenanya jual beli dikembalikan, menurut ijma’ kaum musllimin, selain cacat seperti gila,kusta, baros, terputus dzakarnya, imptoten, fataq (cacat kelamin wanita berupa terbukanya vagina sampai lubang kencing atau Ada juga yang mengatakan sampai lubang anus (cloaca). Kebalikan dari fatq adalah rataq, yaitu tertutupnya vagina oleh daging tumbuh), qarn (tertutupnya vagina oleh tulang), dan adalah, tidak ada ketetapan khiyar tanpa diketahui adanya khilaf diantara ahlul ilmi. Dan disyaratkan bagi penetapa khiyar bagi suami tidak mengetahuinya pada saat akad dan tidak rela dengan cacat itu setelah akad. Apabila ia tahu cacat itu setelah akad atau sesudahnya tetapi rela, maka ia tidak mempunyai hak khiyar. Dan tidak ada khilaf bahwa tidak adanya keselamatan suami dari cacat, tidak membatalkan nikah, tapi hak khiyar tetap bagi si perempuan, bukan bagi para walinya.

         Dalam hal pernikahan Jika ada cacat dalam mahar maka boleh dikembalikan dan akadnya tetap sah dengan konsekuensi harus diganti. [15]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

 

 

       Dari beberapa penjelasan yang telah teruai diatas dapat ditarik beberapa kesimpulan bahwasanya kesepakatan antar kedua pihak berkenaan dengan suatu hal atau kontrak antara beberapa pihak atas diskursus yang dibenarkan oleh syara’ dan memiliki implikasi hukum tertentu.terkait dalam implementasinya tentu akad tidak pernah lepas dari yang namanya rukun maupun syarat yang mesti terpenuhi agar menjadi sah dan sempurnanya sebuah akad. Adapun mengenai jenis-jenis akad, ternyata banyak sekali macam-macam akad yang dilihat dari berbagai perspektif, baik dari segi ketentuan syari’ahnya, cara pelaksanaan, zat benda-benda, dan lain-lain. Semua mengandung unsur yang sama yakni adanya kerelaan dan keridhaan antar kedua belah pihak terkait dengan pindahnya hak-hak dari satu pihak ke pihak lain yang melakukan kontrak. Sehingga dengan terbentuknya akad, akan muncul hak dan kewajiban diantara pihak yang bertransaksi. Sehingga tercapailah tujuan kegiatan muamalah dalam kehidupan kita sehari-hari

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

Ad- Dasuki, Syah Al-Kabir Li Ad Dardir wa Hasiyyatuh,  juz III.

Alaud Din Al-Kasyani, Bada’I Ash-Shana’I fi Tartib Syara’I, Syirkah Almathbu’ah, Mesir

Ibn Abidin, Radd Al-Mukhtar Syarh Tanwir Al-Abhshar, Al Munirah, Mesir

Ibnu Rusyd., Bidayah Al-Mujtahid wa Nihayah Al- Muqtashid, Beirut, Dar Al-Fikr.

Ibnu Rusyd., Bidayah Al-Mujtahid wa Nihayah Al- Muqtashid

Ibn Ishaq Asy-Syirazi, Al-Muhadzdab.

Muhammad Asy-Syarbini, Mugni ALMuhtaj

Taimiyyah, Nazhariyah Al-Aqdi

Wahbah Al-Juhailli, Al Fiqh Al-Islami Wa Adillatuh, juz IV, Damsyik, Dar Al-Fikr,1989

Rachmat Syafei, Fiqih Muamalah,  CV Pustaka Setia, 2001, Bandung

Http://Google.com, 27-10-2010, 07.00 pm

 


[1] Wahbah Al-Juhailli, Al Fiqh Al-Islami Wa Adillatuh, juz IV, Damsyik, Dar Al-Fikr,1989, hal.80.

[2]Lihat, Ibnu Taimiyyah, Nazhariyah Al-Aqdi,hlm.1-21,78

[3] Ibn Abidin, Radd Al-Mukhtar ‘Ala Dar Al-Mukhtar, juz II, hlm.355

[4] Ad- Dasuki, Syah Al-Kabir Li Ad Dardir wa Hasiyyatuh,  juz III,  hlm 2

[5] Rachmat Syafei, Fiqih Muamalah,

[6] Ibn Ishaq Asy-Syirazi, Al-Muhadzdab, juz I. hlm. 257

[7]Al-Kasani, op. cit., juz V, hlm. 134

[8] Ghayah AlMuntaha, juz II hlm. 5

[9] Ibnu Rusyd., Bidayah Al-Mujtahid wa Nihayah Al- Muqtashid, juz II. Hlm. 161

[10] Muhammad Asy-Syarbini, Mugni ALMuhtaj, jjuz III hlm. 139

[11] Ibn Abidin, Op. Cit., hlm. Juz IV. Hlm. 5

[12] Ibn Abidin, Op. Cit., juz II, hlm. 448

[13] Al-Kasani, Op.Cit., juz V, hlm. 140

[14] Al-Kasani, Op.Cit., juz IV, hlm. 142

[15] Http://Google.com, 27-10-2010, 07.00 pm

SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN PADA ZAMAN MODERN

Michelet, sejarahwan terkenal, adalah orang pertama yang menggunakan istilah renaisans. Para sejarahwan biasanya menggunakan istilah ini untuk menunjuk berbagai periode kebangkitan intelektual, khususnya di Eropa, dan lebih khusus lagi di Italia sepanjang abad ke-15 dan ke-16. Agak sulit menentukan garis batas yang jelas antara abad pertengahan, zaman renaisans, dan zaman modern. Bisa dikatakan abad pertengahan berakhir tatkala datangnya zaman renaisans. Sebagian orang menganggap bahwa zaman modern hanyalah perluasan dari zaman renaisans. Renaisans adalah periode perkembangan peradaban yang terletak di ujung atau sesudah abad kegelapan sampai muncul abad modern. Renaisans merupakan era sejarah yang penuh dengan kemajuan dan perubahan yang mengandung arti bagi perkembangan ilmu. Ciri utama renaisans yaitu humanisme, individualisme, sekulerisme, empirisisme, dan rasionalisme. Sains berkembang karena semangat dan hasil empirisisme, sementara Kristen semakin ditinggalkan karena semangat humanisme.

Tokoh penemu di bidang sains pada masa renaisans (abad 15-16 M): Nicolaus Copernicus (1473-1543 M), Johanes Kepler (1571-1630 M), Galileo Galilei (1564-1643 M), dan Francis Bacon (1561-1626 M).

Selanjutnya tokoh penemu di bidang sains pada zaman modern (abad 17-19 M): Sir Isaac Newton (1643-1727 M), Leibniz (1646-1716 M), Joseph Black (1728-1799 M), Joseph Prestley (1733-1804 M), Antonie Laurent Lavoiser (1743-1794 M), dan J.J. Thompson. Perkembangan ilmu pada abad ke-18 telah melahirkan ilmu seperti taksonomi, ekonomi, kalkulus, dan statistika, sementara pada abad ke-19 lahirlah pharmakologi, geofisika, geomophologi, palaentologi, arkeologi, dan sosiologi. Pada tahap selanjutnya, ilmu-ilmu zaman modern memengaruhi perkembangan ilmu zaman kontemporer.[1]

            Zaman modern ini sebenarnya sudah terintis mulai dari abad 15 M. Tetapi, indikator yang nyata terlihat jelas pada abad 17 M dan berlangsung hingga abad 20 M. Hal ini ditandai dengan ditandai dengan adanya penemuan-penemuan dalam bidang ilmiah. Menurut Slamet Iman Sontoso, dalam buku yang disusun oleh Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM (2001:79) ada tiga sumber pokok yang menyebabkan berkembangnya ilmu pengetahuan di Eropa dengan pesat, yaitu hubungan antara kerajaan Islam di Semenanjung Liberia dengan negara Perancis, terjadinya Perang Salib dari tahun 1100-1300, dan jatuhnya Istambul ke tangan Turki pada tahun 1453. Ilmuwan pada zaman ini membuat penemuan dalam bidang ilmiah. Eropa yang merupakan basis perkembangan ilmu melahirkan ilmuwan yang populer.[2]

Zaman modern di tandai dengan berbagai penemuan dalam bidang ilmiah. Perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman modern sesungguhnya sudah di rintis sejak zaman Renaissance. Tokoh yang terkenal sebagai bapak filsafat modern adalah Rene Descartes. Rene Descartes juga sebagai ilmu pasti. Penemuannya dalam ilmu pasti adalah system koordinat yang terdiri atas dua garis lurus X Dan Y dalam bidang datar. Isaac Newton dengan temuannya teori grafitasi. Charles Darwin dengan  teorinya struggle for live ( Perjuangan untuk hidup ). J.J Thompson dengan temuannya electron. Berikut penjelasan sekilas dari filsuf-filsuf tersebut.[3]

 

 

1.      Rene Descartes

Dia juga dikenal sebagai Renatus Cartesius. Ia adalah seorang filsuf dan matematikawanPerancis. Karyanya yang terpenting ialah Discours de la méthode (1637) dan Meditationes de prima Philosophia (1641). Descartes, kadang dipanggil “Penemu Filsafat Modern” dan “Bapak Matematika Modern”. Pemikirannya membuat sebuah revolusi falsafi di Eropa karena pendapatnya yang revolusioner bahwa semuanya tidak ada yang pasti, kecuali kenyataan bahwa seseorang bisa berpikir. Hasil pemikirannya berupa konsep “Aku berpikir maka aku ada (I think, therefore I am). Meski paling dikenal karena karya-karya filosofinya, dia juga telah terkenal sebagai pencipta sistem koordinat Kartesius, yang mempengaruhi perkembangan kalkulus modern.[4]

2.      Isaac Newton

Berperan dalam ilmu pengetahuan modern terutama penemuannya dalam tiga bidang, yaitu teori Gravitasi, perhitungan Calculus, Dan Optika. Ketiga bidang tersebut dapat di uraikan secara singkat adalah sebagai berikut.

a.       Teori gravitasi adalah perbincangan lanjutan mengenai soal pergerakan yang telah di rintis oleh Galileo Dan Kepper. Galileo mempelajari pergerakan dengan lintasan lurus. Kepper mempelajari pergerakan lintasan tertutup atau elips. Berdasarkan perhitungan yang di ajukan oleh keppler menunjukkan bahwa tentu ada factor penyebab mengapa planet tidak mengikuti pergerakan dengan lintasan lurus. Dugaan sementara penyebab ditimbulkan oleh matahari yang menarik bumi atau antara matahari dengan bumi ada gaya saling tarik  menarik. Persoalan itu menjadi obsesi Newton, namun ia menghadapi berbagai kesukaran. Perhitungan besarnya bumi Dan matahari belum di ketahui, Dan Newton belum mengetahui bahwa pengaruh benda pada benda yang lain dapat dipandang Dan dihitung dari pusat titik berat benda-benda tadi. Setelah kedua hal ini di ketahui oleh Newton, barulah ia  dapat menyusun teori Gravitasi. Teori gravitasi menerapkan bahwa planet tidak bergerak lurus, namun mengikuti lintasan elips, karena adanya pengaruh gravitasi, yaitu kekuatan yang selalu akan timbul jika ada dua benda berdekatan. Teori Gravitasi ini dapat menerangkan dasar dari semua lintasan planet Dan bulan, pengaruh pasang surutnya air samudera, Dan peristiwa astronomi lainnya. Teori Gravitasi Newton ini di pergunakan oleh para ahli berikutnya untuk pembuktian laboratorium Dan penemuan planet baru di alam semesta.

b.      Perhitungan Calculus, yaitu hubungan antara X Dan Y. kalau X bertambah, maka Y akan bertambah pula, tetapi menurut ketentuan yang tetap atau teratur. Misalnya ada benda bergerak, panjangnya jarak yang di tempuh tergantung dari kecepatan tiap detik Dan panjangnya waktu pergerakan. Cara perhitungan Calculus ini banyak manfaatnya untuk menghitung berbagai hubungan antara dua atau lebih hal yang berubah, bersama dengan ketentuan yang teratur.

c.       Optika atau mengenai cahaya jika cahaya matahari di lewatkan sebuah prisma, maka cahaya asli yang kelihatannya homogeny menjadi terbias antara merah sampai ungu, menjadi pelangi. Kemudian kalau pelangi itu di lewatkan sebuah prisma lainnya yang terbalik, maka pelangi terkumpul kembali menjadi cahaya homogen. Dengan demikian dapat di buktikan bahwa cahaya itu sesungguhnya terdiri atas komponen yang terbentang antara merah Dan ungu.

3.       Charles Darwin

Dikenal sebagai penganut teori evolusi yang fanatik. Darwin menyatakan bahwa perkembangan yang terjadi pada makhluk di bumi terjadi karena seleksi alam. Teori yang terkenal ada struggle for life ( perjuangan untuk hidup ). Darwin berpendapat bahwa perjuangan untuk hidup berlaku pada setiap kumpulan makhluk hidup yang sejenis, karena meskipun sejenis namun tetap menampilkan kelainan-kelainan kecil. Makhlu hidup yang berkelainan kecil itu berbeda-beda daya menyesuaikan dirinya terhadap lingkungan. Makhluk hidup yang dapat menyesuaikan diri akan memiliki peluang yang lebih besar untuk bertahan hidup lebih lama, sedangkan yang kurang dapat menyesuaikan diri akan tersisihkan karena kalah tersaing. Oleh karena itu yang dapat bertahan adalah yang paling unggul ( Survival of the fittest )[5]

 

Aliran yang ada pada saat itu adalah sebagai berikut :

       Rasionalisme

Adanya pendirian bahwa kebenaran- kebenaran yang hakiki itu secara langsung dapat diperoleh dengan menggunakan akal. Adanya suatu penjabarannya secara logic atau deduksi untuk memberikan pembuktian mengenai lain- lain segi dari seluruh sisa bidang pengetahuan berdasarkan atas apa yang dianggap sebagai kebenaran- kebenaran hakiki.

       Empirisme

Sumber pengetahuan yang memadai ialah pengalaman  lahir yang menyangkut dunia dan pengalaman batin yang  menyangkut pribadi manusia.

       Kritisisme

Menurul immanuel kant (1724-1804)  pengetahuan itu seharusnya sintetis apriori (pengetahuan bersumber dari rasio dan empiris yang sekaligus bersifat apriori (rasional) dan a posteriori (empiris)

       Idealisme

Filsafatnya bersumber  dari kritimesnya Immanuel kant. Yang dijuluki sebagai penganut idealisme subjektif merupakan murid kant. Demikian juga dengan scelling ysng filsafatnya disebut dengan idealisme ini (subjektif dan objektif) yang disintetiskan dalam filsafat idealisme mutlaknya Hegel (1770- 1831). Bagi Hegel pikiran adalah essensi dari alam dan alam adalah keseluruan jiwa yang diobyektifkan.

       Positivisme

Terhadap arti dan pemikiran dalam struktur dunia merupakan intuisi dasar yang menjadi asa idealisme.

       Marxisme

Filsafat positivisme comte disebut juga paham empirisme- kritis, bahwa pengamatan dengan teori berjalan seiring.[6]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

 

Dari pembahasan diatas bisa ditarik kesimpulan bahwa perkembangan ilmu pada zaman modern sangatlah pesat di awali dari zaman Renaisans. Zaman renasains yang merupakan era sejarah yang penuh dengan kemajuan dan perubahan yang mengandung arti bagi perkembangan ilmu yaitu dengan munculnya ilmuan – ilmuan seperti Nicolaus Copernicus (1473-1543 M), Johanes Kepler (1571-1630 M), Galileo Galilei (1564-1643 M), dan Francis Bacon (1561-1626 M).  

Pada zaman modern ini melahirkan banyak sekali ilmuan – ilmuan besar dalam bidangnya seperti Rene Descrates, Carles Darwin, Isaac Newton serta Joseph John Thomson.  

Perkembangan ilmu pada modern telah banyak melahirkan ilmu seperti taksonomi, ekonomi, kalkulus, dan statistika, pharmakologi, geofisika, geomophologi, palaentologi, arkeologi, dan sosiologi. Pada tahap selanjutnya, ilmu-ilmu zaman modern memengaruhi perkembangan ilmu zaman kontemporer.

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

 

Surajiyo Filsafat ilmu dan perkembangannya di Indonesia suatu pengantar, Bumi aksara, jakarta : 2007Aliran yang ada pada saata saat sebagaiberikut :

http://msubhanzamzami.wordpress.com/2010/11/11/sejarah-perkembangan-ilmu-pengetahuan/

http://jadiwijaya.blog.uns.ac.id/2010/06/02/sejarah-perkembangan-ilmu/

http://jadiwijaya.blog.uns.ac.id/2010/06/02/sejarah-perkembangan-ilmu/

http://www.nuril-efendi.co.cc/2011/02/penelaahan-dan-sejarah-perkembangan.html(14-04-11/11:21)


[3] Surajiyo , Filsafat ilmu dan perkembangannya di Indonesia suatu pengantar,

[5] Surajiyo, Filsafat ilmu dan perkembangannya di Indonesia suatu pengantar, Bumi aksara,jakarta : 2007, halira

TAKHRIJ AL HADITS

1.      PENGERTIAN TAKHRIJ

a. Menurut Bahasa ( Etimologi)

      Jika kita melihat di beberapa kamus Arab maka kata  At Takhrij (التخريج) mempunyai banyak arti namun yang paling populer diantaranya adalah :

1). الأستنباط : mengeluarkan, seperti yang yang tersebut dalam kamus ; الأستخراج   dan   الأختراج , yang berarti mengeluarkan.(1 )

2).  التدريب:meneliti, seperti perkataan dalam kamus  خرجه فى الأدب فتخرج, yang        berarti خريج  dengan bentuk isim maf’ul (seperti bentuk kata : عنين) : sesuatu yang dikeluarkan. (2)

3)  التوجيه : mengarahkan, seperti perkataan :  خرج المسألة, yang berarti : mengarahkan masalah dari satu segi .

Dan perkataan : المخرج  yang berarti tempat keluar, seperti perkataan

 حسنا خرج مخرجا: keluar pada tempat yang baik , dan perkataan هذا مخرجه :inilah tempat keluarnya .  (3)

Dengan demikian perkataan Muhaddisin خرجه البخاري  yang berarti   اخرجه   : mengeluarkanya, adalah menyebutkan tempat keluarnya atau para rowi asalnya sebagai jalan keluar atau munculnya hadits.

 

 

 

  1. Al Qomus al Muhith 1: 192
  2. ibid
  3. Lisan Al Arab II : 249

 

 

 

 

4

 

b. Menurut Ishtilah ( Terminologi  )

 

            Tentang pengertian Al Takhrij secara terminology ditemukan beberapa pendapat dari para Muhadditsin namun yang paling populer diantaranya adalah Al Dilalah yang artinya yaitu menunjukan kitab – kitab sumber hadits, dan menyandarkanya dengan cara menyebutkan para periwayatnya ( rowi) yaitu para pengarang kitab – kitab sumber tersebut. Al Munawiy dalam Faydh al Qodir menjelaskan ungkapan dari Al Suyuthiy :

وبالغت فى تحرير التخريج

“ bahwa saya bersungguh – sungguh dalam meneliti dan menisbatkan hadits pada Mukhorrijnya ( para Imam Hadits ) “

Baik dari kitab Al Jami’, Sunan, atau Musnad. Dalam arti saya menyandarkan suatu hadits pasti setelah meneliti keadaan hadits itu dan keadaan para perowinya, dan saya tidak merasa puas dengan penisbatanya kepada orang yang bukan ahlinya, meskipun orang itu cukup disegani, seperti tokoh-tokoh tafsir. 1

Dalam bukunya Syeh Dr. Mahmud al Thohhan yang diterjemah oleh Al Ustad Imam Ghozali Said memberikan sebuah definisi yang lebih simple tentang Al Takhrij sebagai berikut :

الدلالة على موضع الحديث فى مصادره الأصلية التي أخرجته بسنده ثم بيان مرتبته عند الحاجة.

“ menunjukan sumber-sumber asli suatu hadits yang diriwayatkan lengkap dengan sanadnya, kemudian menjelaskan derajatnya jika diperlukan.”

 Penjelasan :

  • Menunjukan berarti menyebutkan kitab-kitab asli hadits tersebut .
  • Sumber-sumber asli hadits adalah : kitab – kitab hadits yang dihimpun oleh para pengarangnya dengan jalan ia menerima langsung dari guru-gurunya dan lengkap dengan sanad-sanadnya sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Seperti 6 kitab hadits yang masyhur. Muwatho’ malik, Musnad Ahmad, Mustadrok al Hakim, Mushonnah Abdur Rozzaq, dan lain – lain .

 

  1. Faydh al Qodir, Syarah Al Jami’ al Shoghir I : 20

5

2.       METODOLOGI  TAKHRIJ

Untuk dapat menelusuri suatu hadits dari kitab – kitab aslinya, tentunya terlebih dahulu harus diperhatikan keadaan suatu hadits yang dimaksud, yaitu dengan cara memperhatikan sahabat yang meriwayatkan, melihat pokok bahasanya, lafadz – lafadznya, atau dengan memperhatikan sifat – sifat tertentu dalam sanad atau matanya.

Menurut para Ahlil Hadits ada lima metode dalam mentakhrij (menelusuri sumber hadits) diantaranya adalah :

  1. Dengan mengetahui sahabat yang meriwayatkan hadits (Rowi shohabiy)
  2. Dengan mengetahi lafadz pertama dari matan Hadits.
  3. Dengan mengetahui lafadz matan hadits yang jarang terungkap
  4. Dengan mengetahui pokok bahasan hadits, atau sebagianya jika mengandung beberapa pembahasan,
  5. Dengan meneliti keadaan hadits, baik dalam sanad maupun matanya.

Lebih jelasnya lima metode diatas adalah sebagai berikut.

a. Mengetahui sahabat Yang meriwayatkan Hadits.

            Metode ini dapat diterapkan selama nama sahabat yang meriwayatkan hadits dapat diketahui, jika tidak maka metode ini tidak dapat diterapkan.

Untuk menerapkan metode ini kita dapat menggunakan tiga macam kitab :

  1. Kitab – kitab Musnad .

Yaitu kitab hadits yang disusun berdasarkan nama-nama sahabat atau kitab yang menghimpun hadits- hadits sahabat.

Kitab Musnad yang ditulis oleh para ahli hadits jumlahnya mencapai seratus kitab bahkan lebih, namun menurut Al Kattaniy dalam ar Risalah al al Mustathrofah hanya berjumlah 82 kitab, selain itu masih banyak lagi.1

Diantara kitab – kitab Musnad adalah :

·        Musnad Ahmad bin Hambal (241H)

·        Musnad Abu Bakar  Abdulloh bin al Zubayr al Humaidiy (219 H)

·        Musnad Abu Dawud Sulaiman bin Dawud al Thoyalisiy ( 204 H),dll.

 

1.      Al Risalah al Mustattharafah, 67

6

2.      Kitab al Mu’jam.

Menurut para Muhadditsin yaitu kitab – kitab yang disusun berdasarkan Musnad-musnad sahabat, guru-gurunya, Negara atau yang lain, namun pada umumnya  adalah berdasarkan nama-nama sahabat melalui urutan huruf hijaiyah.

Diantara kitab-kitab Mu’jam yang masyhur adalah :

·        Al Mu’jam al Kabir, kaya Abu al Qosim Sulaiman bin Ahmad Al Thobroniy (360 H) 1.

Yang disusun berdarkan musnad sahabat, terdiri dari 60.000 hadits.

·        Al Mu’jam al Ausath , juga karya Abul Qosim

Yang tersusun berdasarkan nama guru-guru beliau hamper mencapai 2000 orang, memuat 30.000 hadits.

·        Al Mu’jam al Shoghir, juga Abul Qosim

Juga berdasarkan guru-guru beliau mencapai 1000 orang, untuk satu guru diambil satu hadits.

3.      Kitab – kitab  Athraf

Yaitu kitab hadits yang disusun berdasarkan (Thorf) ujung matan hadits yang dapat menunjukan keseluruhanya, kemudian menyebutkan sanad-sanadnya baik secara menyeluruh maupun penisbatan pada kitab-kitab tertentu.jumlah kitab-kitab tersebut banyak sekali namun yang masyhur diantaranya adalah :

·        Athrof al Shohihain, karya Abu Mas’ud Ibrohim bin Muhammad al Dimasqiy (410 H)

·        Athrof al Shohihain, karya Abu Muhammad kholaf bin Muhammad al Wasithiy (410 H)

·        Al Asrof ‘la al Ma’rifah al Athrof, tentang Athraf, sunan empat, karya al Hafidz Abul Qosim Ali bin al Hasan popular dengan Ibnu Asaakir al Dimsqiy (571 H), dll.

 

 

1.       beberapa tahun lalu Departemen Iraq menerbitkan kitab ini dalam 25 Jilid

 

7

b.  Mengetahui Lafadz pertama Matan Hadits.

     Metode ini dapat digunakan ketika lafadz pertama hadits dapat diketahui jika sebaliknya maka metode ini juga akan sia-sia belaka.

Ada tiga macam kitab yang dapat dipakai acuan untuk dapat menggunakan metrode ini :

1.      kitab-kitab hadits yang mashur dikalangan masyarakat

2.      kitab – kitab hadits yang disusun berdasarkan huruf hijaiyah

3.      Kitab – kitab Miftah (kunci) dan Fahras (indeks)

Diantaranya adalah :

·        Kitab Masyhur, Al Tadzkiroh al Ahadits al Musytahiroh, karya Badruddin bin Muhammad bin Abdulloh al Zarkasy (974 H)

·        Kitab disusun berdasarkan Hijaiyah, Al Jami’us al Shoghir Min Haditsil Basyir al Nadzir, karya Jalaluddin Abdur Rahman bin Abu baker Al Suyuthiy (911 H), memuat sekitar 10.000 hadits.

·        Kitab kunci, Miftahus Shohihain, karya al Tawqodiy. dll.

 

c. Mengetahui Redaksi Matan Hadits yang jarang di gunakan.

      Dalam menggunakan metode ini, kita dapat menggunakan kitab al Mu’jam al Mufahros li Al fadz al Hadits al Nabawiy.

 

d. Menggunakan pokok bahasan Hadits.

      Metode ini lebih mudah dibanding dengan metode yang lain, namun dalam menggunakan metode ini seseorang harus memehami pembahasan yang terdapat dalam hadits yang dimaksud atau minimal sebagian darinya manakala hadits tersebut memuat beberapa pembahasan, kitab – kitab yang digunakan dalam metode ini terbagi menjadi tiga macam;

1.      Kitab yang membahas masalah – masalah keagamaan secara menyeluruh,seperti masalah aqidah, hukum, akhlakyang berhubungan dengan tafsir, tarikh, dll ;

ü      Al Jami’ al Shohih, karya al Bukhoriy

ü      Al. Jami’ al Shohih, karya Muslim

ü      Jami’ Abdurrozzaq, dll.

8

2.      Kitab yang membahas melalui sistematika Fiqh, diantaranya ;

a.      Kitab As Sunan seperti, Sunan Abu Dawud, Sunan Nasa’I, Sunan  Ibnu Majah, dll.

 

3.      Kitab Hadits yang hanya membahas satu aspek keagamaan, diantaranya adalah kitab ;

a.      Ajzza’ seperti, Juz Hadits riwayat Abu hanifah dari salah seorang sahabat. Karya Abu Ma’syar Abdul karim bin Abdus Shomat at Thobary (178 H)

b.      Al Targhib dan Al Tarhib,

c.       Al zuhdu Wa al Adabu wa Al Akhlaku.

 

e. Meneliti Sanad dan Matan Hadits

      Yang dimaksud dengan metode ini adalah mempelajari sedalam dalamnya keadaan matan dan sanad hadits. Kemudian mencari sumbernya dalam kitab –kitab yang khusus membahas keadaan matan sanad hadits tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

9

3. TAKHRIJ MENGGUNAKAN AL MU’JAM AL MUFAHRAS LI ALFADZ AL HADITS

     

      Sebelum menginjak pada pembahasan tentang metodologi kitab tersebut, ada baiknya kita mengetahui latar belakang kitab tersebut.

Kitab tersebut memuat daftar redaksi (matan) hadits dalam sembilan kitab yaitu kitab sunan enam, Muwatho’ malik, Musnad Ahmad dan Musnad al Darimy, yang disusun oleh sekelomok orientalis dan diterbitkan oleh salah seorang dari mereka, yaitu DR. ARNDGAN WENSINCK (1939), salah seorang dosen bahasa Arab di Universitas Leiden, dan di cetak oleh percetakan BERLIN di Leiden Belanda. Muhammad Fuad Abdul Baqy adalah orang yang berjasa membantu mereka untuk mentakhrij hadits dan menerbitkan kitab ini, dan proyek ini dilakukan atas bantuan material dari lembaga keilmuan Inggris, Denmark, Swedia, Belanda, UNESCO, Alexander Pasa, Lembaga Ilmiyah dan Penelitian Belanda dan lembaga – lembaga keilmuan Internasional lainya. Sayangnyakitab ini tidak mencantumkan mukaddimah yang menjelaskan sistematika penyusunanya. Padahal masalah itu sangat dibutuhkan. Hanya saja pada awal jilid ketujuh dicantumkan beberapa petunjuk dan penjelasan tentang susunan lafadz, dan pengertianya, lengkap dengan petunjuk praktis tentang cara penggunaanya, namun itu masih belum lengkap.

      Sistematika kitab ini mendekati sistematika kitab-kitab mu’jam lughot, namun tidak berdasarkan urutan huruf, nama para tokoh, dan bentuk kata kerja (fi’il), yang biasa digunakan, seperti   قال  ,  جاء serta semua katayang terpatron dari keduanya, demikian pula kata-kata yang lain. Ketika dibutuhkan beberapa hadits yang sama pembahasanya, sering kali berpindah pada pembahasan yang lain padahal bahasan yang satu belum selesai, inilah yang menjadi sebaba adanya sebuah penilaian bahwa kitab mu’jam ini masih penuh dengan kekurangan, dan juga penulisnya tidak membuat daftar kata-kata hadits dari kitab-kitab yang semestinya ada. Sistematika seperti ini jika terlalu banyak akan mempersulit, menyita banyak waktu, membuat bosan, dan ironisnya akan mengurangi semangat untuk meneliti hadits, bahkan terkadang seseorang harus mencari 50 pembahasan atau lebih untuk untuk mencari sebuah hadits.

10

Semisal mencari “Qootala” harus melihat terlebih dahulu 68 bahasan yang diantaranya pembahasan “al Qital” sementara pembahasan yang lain berbeda. (lihat juz V : 294).

Dalam penggunaan kitab Mu’jam diatas ada beberapa petunjuk yang harus di ketahui diantaranya :

a.       Kode – kode yang digunakan dari kitab kitab yang menjadi referensi.

Ø    خ    untuk kitab Shohih Bukhoriy

Ø      م     untuk Shohih Muslim

Ø    ت    untuk Jami’ al Turmudziy

Ø      د     untuk Sunan Abu Dawud

Ø      ن    untuk Sunan al Nasa’i

Ø      جه   untuk sunan Ibnu Majah

Ø    ط     untuk Muwatrho’ Malik

Ø    حم    untuk Musnad Imam Ahmad

Ø    دي   untuk Musnad al Darimiy.

Berikut contoh dari masing – masing kode diatas sebagaimana dalam Kitab Mu’jam tersebut :

15 ت ادب       Bab XV , tentang (kitab) al Adab dalam Shohih Turmudziy

31 جه تجارة    Bab XXXI, tentang (kitab) perdagangan, dalam Sunan Ibnu Majah

75,4   حم     Halaman 175, jilid IV dalam Musnad Imam Ahmad

16,3  خ شركةBab III dan XVI, tentang (kitab) perseroan dalam Shohih Bukhoriy.

72د طهارة     Bab XXII, tentang kitab bersuci, dalam Sunan Abu Dawud. 1

 

1,  DR. Mahmud At Tahhan.Ushul al Takhrij wa Dirosah al Asaanid.Maktabah al Ma’arif, Riyadh, Cet II 1412/1991

 

 

 

 

 

 

12

BAB  III

PENUTUP

 

A.     Kesimpulan.

      Dari paparan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa At Takhrij adalah memberikan sebuah petunjuk  dalam meriwayatkan sebuah hadits tentang sumber-sumber aslinya (kitab kitab asalnya) dan sanadnya (jalur periwayatanya) serta derajat nya semisal Shohih, hasan atau dho’if jike diperlukan.

Adapun metodologi at Takhrij  atau dalam menelusuri hadits ada 5 cara sebagaimana telah tersebut diatas.

Sedangkan sarana pembantunya ada tiga tipe kitab hadits yang dapat digunakan  sebagaimana penjelasan diatas.

Dengan teori Takhrij ini kita dapat menelusuri hadits dari sumber aslinya dan sekaligus kwalitas hadits tersebut (Shohih, hasan dan Dho’if) serta layak tidaknya untuk diriwayatkan.

 

B. Saran

      Tentunya makalah ini masih jauh dari nillai baik dan sempurna oleh karena itu kritik dan saran selalu kami harap dari siapa saja yang membacanya, mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat didunia dan akhirat, Amin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

13

DAFTAR PUSTAKA

 

 

1.      DR. Mahmud At Tahhan.Ushul al Takhrij wa Dirosah al Asaanid.Maktabah al Ma’arif, Riyadh, Cet II 1412/1991

2.      Al Risalah al Mustattharafah, 67

3.      Faydh al Qodir, Syarah Al Jami’ al Shoghir I : 20

4.      Lisan Al Arab II : 249

5.      Al Qomus al Muhith 1: 192

6.      Imam Ghozali Said, Metodologi Kitab Kuning : melacak sunber, Menelusuri Sanad dan menilai hadits. Diantama. Cet II. Surabaya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perkembangan Manusia

Perkembangan diartikan sebagai perubahan yang kontinu dan sistematis dalam diri seseorang sejak tahap konsepsi sampai meninggal dunia. Perkembangan berkaitan dengan kematangan secara biologis dan proses belajar. Demikian pula dalam perkembangan anak, secara biologis Ia harus berada dalam kondisi sesuai umurnya. Terdapat pola kesamaan perkembangan dalam diri seseorang dengan anak lainnya pada tahap usia tertentu.[1]

 

I.        Perkembangan Manusia Fase Prasekolah ( 4 – 6 tahun )

 

a.    Perkembangan Fisik

Pada umur prasekolah sekitar 5 tahun keseimbangan badan anak sudah berkembang cukup baik, anak sudah pandai berjalan, naik tangga, meloncat ke tanah dengan kedua kakinya dan sering kali sudah dapat bersepeda.[2]

Aktifitas fisik adalah salah satu karakteristik umum anak-anak TK/Prasekolah, meskipun sangat berbeda-beda dalam hal tingkat perkembangan keterampilan dan kemampuan fisik. Beberapa anak terlihat lambat dan hati-hati untuk mencoba hal-hal baru; sementara yang lainnya sepertinya siap menerima setiap tantangan yang disajikan.

Sebagian besar anak-anak TK penuh dengan energi, siap untuk berlari, bermain ayunan, memanjat dan melompat, dan sangat ingin mencoba kekuatan mereka dengan memindahkan blok atau kotak besar.

Mereka sedang mengembangkan rasa irama, dan menikmati kegiatan seperti berjalan, melompat atau bertepuk tangan untuk musik.

Perkembangan kemampuan sensor indera masih tidak merata karena koordinasi mata dengan indera lainnya masih berkembang.  Ini adalah masa konsolidasi keuntungan dan mengembangkan kontrol motorik halus, namun, jika terjadi penekanan pada kegiatan motorik halus seperti menulis, memotong dan membuat diskriminasi visual yang sangat diskrit dapat mengakibatkan ketegangan dan frustrasi pada anak-anak[3]

b.    Perkembangan Psikis

            Anak-anak mengembangkan keterampilan sosial dan emosional selama masa prasekolah. Pada tahun-tahun pertama,  beberapa anak mungkin muncul dengan malu-malu dan seperti kurang inisiatif dalam bergaul. Namun, ketika mereka akhirnya mengalami adanya penerimaan dari para guru dan teman maka secara perlahan biasanya mereka dapat memperoleh kepercayaan diri, mulai membangun persahabatan, dan aktif dalam kelas.

            anak-anak juga mungkin terlalu tegas (agresif) sebelum belajar dari pengalaman cara-cara yang lebih tepat untuk berhubungan dengan teman-temannya. Ini adalah waktu untuk menguji dan mengeksplorasi hubungan-hubungan sosial.

            anak-anak sangat ingin bisa dipercaya untuk mengemban suatu tanggung jawab. Mereka senang jika dilibatkan dalam suatu keperluan, diijinkan menggunakan alat yang tepat, bekerja sama dengan orang dewasa dalam kegiatan seperti memasak, membawa barang-barang dari rumah, dan memberikan solusi untuk masalah-masalah praktis.

            Anak-anak lebih stabil dalam hal sosio-emosional jika dapat mengembangkan selera humor yang bagus, mengungkapkan pikiran dan perasaannya dalam bentuk permainan bahasa.

            Mereka dapat mengembangkan ketakutan spesifik, seperti ketakutan akan kematian, dan keliru beranggapan bahwa mereka telah menyebabkan berbagai peristiwa buruk dapat terjadi, misalnya perpisahan orangtua.

            Anak – anak prasekolah menanggapi kritik, nama panggilan dan ejekan dengan sangat serius karena mereka masih berpikir bahwa apa yang dikatakan ada dalam realitas – pada nilai nominalnya.

            Anak – anak mempunyai kontak yang intensif denga teman-tema sebaya.[4]

 

II.     Perkembangan Manusia Fase Sekolah Dasar ( 6 – 12 tahun )

 

Masa usia sekolah dasar sebagai masa kanak-kanak akhir yang berlangsung dari usia enam tahun hingga kira-kira usia sebelas tahun atau dua belas tahun. Karakteristik utama siswa sekolah dasar adalah mereka menampilkan perbedaan-perbedaan individual dalam banyak segi dan bidang, di antaranya, perbedaan dalam intelegensi, kemampuan dalam kognitif dan bahasa, perkembangan kepribadian dan perkembangan fisik anak.[5]

 

a.    Perkembangan Fisik

 

         Sekitar 6 tahun terlihat bahwa badan anak bagian atas lebih lamban berkembangnya daripada badan nagian bawah.

         Anggota – anggota badan masih relative pendek, kepala relative besar, perutnya masih besar dan ada gigi susu.

         Apabila anak sudah mencapai bentuk anak sekolah maka ia akan lebih menyerupai bentuk orang dewasa daipada misalnya anak umur 2 tahunan.

         Bertambahnya berat badan sebagian besar merupakan akibat bertambahnya jaringan urat daging. Dalam keseluruhannya maka jasmani anak akan menjadi lebih stabil dan lebih kuat.

         Kekuatan badan dan kekuatan tanga pada anak laki-laki bertambah dengan pesat antara usia 6-12 tahun.

         Dalam masa ini juga ada perubahan dalam sifat dan frekuensi motorik kasar dan halus. Gerakan motorik sekarang makin tergantung daripada aturan formal dan aturan yang telah ditentukan dan bersifat kurang spontan. Gerakan yang sangat banyak dilakukan oleh anak makin berkurang pada akhir masa ini.[6]

 

 

b.        Perkembangan Psikis

 

         Adanya minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang kongkrit,

         Amat realistik, ingin tahu dan ingin belajar,

         Menjelang akhir masa ini telah ada minat terhadap hal-hal dan mata pelajaran khusus, oleh ahli yang mengikuti teori faktor ditaksirkan sebagai mulai menonjolnya faktor-faktor, 

         Pada umumnya anak menghadap tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha menyelesaikan sendiri,

         Pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi sekolah,

         Anak pada masa ini gemar membentuk kelompok sebaya, biasanya untuk bermain bersama-sama.[7]

BAB III

Kesimpulan

        Perkembangan pada diri seseorang  tentunya berbeda-beda mulai dari masa bayi sampai lanjut usia. Dan juga terdapat pola kesamaan perkembangan dalam diri seseorang dengan anak lainnya pada tahap usia tertentu.

I.        Perkembangan Manusia Fase Prasekolah ( 4 – 6 tahun )

a.       Perkembangan Fisik

        Aktifitas fisik adalah salah satu karakteristik umum anak-anak TK/Prasekolah, meskipun sangat berbeda-beda dalam hal tingkat perkembangan keterampilan dan kemampuan fisik. Beberapa anak terlihat lambat dan hati-hati untuk mencoba hal-hal baru; sementara yang lainnya sepertinya siap menerima setiap tantangan yang disajikan.

b.      Perkembangan Psikis

        Anak-anak mengembangkan keterampilan sosial dan emosional selama masa prasekolah. Pada tahun-tahun pertama,  beberapa anak mungkin muncul dengan malu-malu dan seperti kurang inisiatif dalam bergaul. Namun, ketika mereka akhirnya mengalami adanya penerimaan dari para guru dan teman maka secara perlahan biasanya mereka dapat memperoleh kepercayaan diri, mulai membangun persahabatan, dan aktif dalam kelas.

II.     Perkembangan Manusia Fase Sekolah Dasar ( 6 – 12 tahun )

a.       Perkembangan Psikis

Dalam masa ini juga ada perubahan dalam sifat dan frekuensi motorik kasar dan halus. Gerakan motorik sekarang makin tergantung daripada aturan formal dan aturan yang telah ditentukan dan bersifat kurang spontan. Gerakan yang sangat banyak dilakukan oleh anak makin berkurang pada akhir masa ini.

b.      Perkembangan Psikis

Menjelang akhir masa ini telah ada minat terhadap hal-hal dan mata pelajaran khusus, oleh ahli yang mengikuti teori faktor ditaksirkan sebagai mulai menonjolnya faktor-faktor.

Daftar Pustaka

 

 

Haditono . Siti Rahayu, Psikologi Perkembangan,GajahmadaUniversity Press,Yogyakarta : 1982

http://wongsubah.blogspot.com/2008/10/karakteristik-perkembangan-anak-tk.html

http://www.bintangbangsaku.com/content/karakteristik-anak-tk

http://www.bintangbangsaku.com/content/karakteristik-anak-tk

http://xpresiriau.com/artikel-tulisan-pendidikan/karakteristik-siswa-sekolah-dasar/

http://xpresiriau.com/artikel-tulisan-pendidikan/karakteristik-siswa-sekolah-dasar/

 

 

MEMAHAMI HUKUM ISLAM TENTANG HUKUM KELUARGA

 

A.     Pengertian, Hukum Dan Hikmah Menikah

 

1.      Pengertian Nikah

Nikah menurut bahasa berarti mengumpulkan atau menjodohkan, sedangkan menurut syara’ adalah suatu akad yang menghalalkan pergaulan antara laki-laki Dan perempuan yang bukan muhrim dengan ketetapan hukum yang berlaku. Seperti firman Allah :

÷(#qßsÅ3R$$sù$tBz>$sÛNä3s9z`ÏiBÏä!$|¡ÏiY9$#4Óo_÷WtBy]»n=èOuryì»t/â‘ur(÷bÎ*sùóOçFøÿÅzžwr&(#qä9ω÷ès?¸oy‰Ïnºuqsù 

Artinya : “ Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja.”.[1]

2.      Hukum Nikah

a.       Sunnah

Jumhur ulama’ sepakat bahwa hukum asal pernikahan adalah sunnah. Mereka berdasarkan pada firman Allah Q.S An Nur 24(32)

(#qßsÅ3Rr&ur4‘yJ»tƒF{$#óOä3ZÏBtûüÅsÎ=»¢Á9$#urô`ÏBö/ä.ϊ$t6ÏãöNà6ͬ!$tBÎ)ur4bÎ)(#qçRqä3tƒuä!#ts)èùãNÎgÏYøóリ!$#`ÏB¾Ï&Î#ôÒsù3ª!$#urììřºurÒOŠÎ=tæÇÌËÈ  

Artinya : Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui.

b.      Mubah

Hukum nikah mubah bagi seseorang yang tidak mempunyai factor pendorong atau factor melarang untuk nikah ( sedang-sedang saja ).

c.       Wajib

Bagi orang yang mampu jasmani , rohani Dan materi sedang dorongan seksual telah mencapai puncak untuk segera di salurkan, apabila tidak sangat mungkin akan terjebak pada perbuatan fakhisyah ( zina ).

d.      Makruh

Bagi orang yang secara jasmani Dan rohani cukup matang tapi secara materi masih belum mampu mencukupi kebutuhan keluarga.

e.       Haram

Bagi seorang yang tujuan menikahnya hanya sekedar ingin menyakiti wanita atau mempermainkan wanita.[2]

3.      Pengertian Dan Hukum Khitbah

Yang di maksud khitbah atau meminang adalah pernyataan atau ajakan untuk menikah dari pihak laki-laki terhadap pihak perempuan.

Sedangkan hukum meminang adalah boleh ( Mubah ) dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut :

1.      Perempuan yang di pinang harus memenuhi syarat sebagai berikut :

a.       Tidak terakat oleh akad pernikahan.

b.      Tidak berada dalam masa iddah talak raj’i

c.       Bukan pinangan laki-laki lain.

2.      Cara mengajukan pinangan

a.       Pinangan kepada gadis atau janda yang sudah habis masa iddahnya boleh di nyatakan secara terang-terangan.

b.      Pinangan janda yang yang masih dalam talak bain atau iddah di tinggsl wafat suaminya, tidak boleh di nyatakan secara terang-terangan. Pinangan terhadap mereka hanya boleh dilakukan secara sendiri saja.

 

 

4.      Melihaat Wanita Yang Akan Di Nikahi

Melihat wanika yang akan di nikahi, di anjurkan bahkan di sunnahkan agama. Melihat calon istri untuk mengetahui penampilan Dan kecantikannya, di pandang perlu untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang bahagia sekaligus menghindari penyesalan setelah menikah.

5.      Prinsip Kafa’ah Dalam Pernikahan

Menurut bahasa kafa’ah adalah serupa, seimbang, atau serasi, menurut istilah adalah keseimbangan Dan keserasian antara calon istri Dan suami , baik dalam kedudukan, status sosial, akhlak maupun kekayaannya, sehingga masing-masing calon tidak merasa berat untuk melangsungkan perkawinan.

6.      Pengertian Mahram Nikah Dan Pembagiannya

Yang di maksud mahram adalah perempuan-perempuan yang  haram atau tidak boleh dinikahi, baik di sebabkan oleh factor keturunan, persusuan maupun perkawinan.

a.       Factor perkawinan

          Ibu

          Ibu dari ibu ( nenek )Dan seterusnya ke atas

          Anak, cucu, Dan seterusnya ke bawah.

          Saudara perempuan kandung, saudara perempuan seayah, Dan saudara seibu.

          Saudara perempuan ayah.

          Saudara perempuan ibu.

          Anak perempuan dari saudara laki-laki Dan seterusnya ke bawah.

          Anak perempuan dari saudara perempuan Dan seterusnya kebawah.

b.      Factor persusuan

          Ibu yang menyusui

          Saudara perempuan sepersusuan

c.       Factor perkawinan

          Ibu Dan istri ( mertua )

          Anak tiri jika ibunya sudah di gauli

          Istri dari anak ( menantu )

          Istri bapak ( Ibu Tiri )

7.      Rukun Nikah

Rukun Nikah ada 5 :

1.      Mempelai laki-laki

2.      Mempelai perempuan

3.      Wali

4.      Dua prang saksi

5.      Shigat ijab qabul[3]

 

8.      Hikmah Nikah

 

ô`ÏBurÿ¾ÏmÏG»tƒ#uä÷br&t,n=y{/ä3s9ô`ÏiBöNä3Å¡àÿRr&%[`ºurø—r&(#þqãZä3ó¡tFÏj9$ygøŠs9Î)Ÿ@yèy_urNà6uZ÷t/Zo¨Šuq¨BºpyJômu‘ur4¨bÎ)’Îûy7Ï9ºsŒ;M»tƒUy5Qöqs)Ïj9tbr㍩3xÿtGtƒÇËÊÈ  

Artinya : Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

Antara Lain :

1.      Dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT

2.      Dapat menenangkan Dan menentramkan hati nurani

3.      Dapat menciptakan ukhwah islamiyyah

4.      Dapat menjadikan keluarga sakinah, mawaddah warohmah

5.      Dapat memperbanyak keturunan Dan amal perbuatan

 

 

9.      Macam-macam Pernikahan Terlarang

          Nikah Mut’ah : yaitu nikah yang di niatkan hanya untuk bersenang-senang Dan hanya untuk jangka waktu seminggu, sebulan, setahun dst.

          Nikah Sighrah : yaitu pernikahan yang di dasarkan kepada janji atau kesepakatan penukaran. Yaitu menjadikan dua orang perempuan sebagai mahar atau jaminan masing-masing.

          Nikah Muhallil : yaitu pernikahan yang di lakukan oleh seseorang dengan tujuan untuk menghalalkan perempuan yang di nikahinya agar di nikahi lagi oleh mantan suaminya yang telah menalak tiga.

          Pernikahan Silang : pernikahan antara laki-laki dengan perempuan yang berbeda agama atau keyakinan.

          Pernikahan khadan : Khadan artinya gundik atau piaraan, baik laki-laki yang menjadikan wanita sebagai gundik maupun wanita yang menjadikan laki-laki sebagai gundik.

          Menikahi wanita yang berzina

’ÎT#¨“9$#ŸwßxÅ3ZtƒžwÎ)ºpuŠÏR#y—÷rr&Zpx.Ύô³ãBèpu‹ÏR#¨“9$#urŸw!$ygßsÅ3ZtƒžwÎ)Ab#y—÷rr&Ô8Ύô³ãB4tPÌhãmury7Ï9ºsŒ’n?tãtûüÏZÏB÷sßJø9$#     

Artinya : Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin.(Qs An-Nur)

10.   Hikmah Adanya Pernikahan Terlarang

          Mengangkat harkat Dan martabat manusia, bahwa manusia berbeda dengan binatang.

          Manusia tidak seenaknya menik

          ah atau mencari jodoh.

          Terhindar dari pernikahan inses.

          Terhindar adanya penganiyaan.

 

 

B.     Wali, Saksi, Ijab Qabul, Dan Walimah

 

Ø      Wali

Wali adalah orang yang berhak menikahkan perempuan dengan laki-laki sesuai dengan syari’at islam.

·        Macam-macam wali :

          Wali Mujbir : yaitu wali yang mempunyai hak menikahkan orang yang di walikan tanpa minta izin Dan menanyakan terlebih dahulu pendapat mereka.

          Wali hakim

          Wali Adhal : yaitu wali yang enggan atau menolak untuk menikahkan perempuan yang ada di bawah kewaliannya.

Ø      Ijab Qabul  

Ijab qabul adalah ucapan penyerahan yang dilakukan oleh wali mempelai perempuan Dan penerimaan oleh mempelai laki-laki.

Ø      Mahar

Mahar adalah mas kawin, yaitu suatu pemberian dari pihak laki-laki kepada pihak perempun di sebabkan terjadinya pernikahan.

Ø      Walimah

Walimatun nikah nikah adalah pesta yang di selenggarakan setelah di laksanakannya akad nikah dengan menghidangkan berbagai jamuan yang biasanya di sesuaikan dengan adat setempat

 

C.     Proses Pernikahan Dalam Hukum Indonesia

Di Indonesia masalah perkawinan di atas dalam UU perkawinan No.1 Th 1974, Undang-undang tersebut di buat dengan mempertimbangkan bahwa falsafah Negara Republik Indonesia adalah pancasila, maka perlu di buat undang-undang perkawinan yang berlaku bagi semua warga Negara.

 

 

·        Batasan Umur

Untuk kemaslahatan keluarga Dan rumah tangga, perkawinan hanya boleh di lakukan calon mempelai yang telah mencapai umur yang sudah di tetapkan dalam undang-undang No 1 tahun 1974, yaitu ; menerangkan tentang :

         Pihak pria ( calon suami )sekurang-kurangnya sudah mencapai umur        19 tahun.

         Pihak Wanita ( calon istri )sekurang-kurangnya sudah mencapai umur                16 tahun.

Pasal 7 ayat 2 menerangkan, dalam hal penyimpangan terhadap ayat 1 dapat meminta dispensasi kepada pengadilan atau pejabat lain yang di tunjuk oleh kedua orang tua pihak putra maupun pihak wanita.

·        Pencatatan Perkawinan

Pencatatan nikah di lakukan oleh pegawai pencatatan nikah ( biasanya KUA ), sedangkan perkawinan selain agama islam dilakukan oleh pegawai pencatatan perkawinan pada kantor catatan sipil.

·        Penceraian Di Depan Pengadilan Agama

Di dalam kompilasi hukum islam terdapat tata cara penceraian ( thalaq )di depan pengadilan, yaitu :

         Pasal 129 : seorang suami yang akan menjatuhkan thalaq kepada isrinya, mengajukan permohonan baik lisan maupun tertulis kepada pengadilan agama yang mewilayahi tempat tinggal istri di sertai dengan alas an serta meminta agar di adakan sidang untuk keperluan itu.

         Pasal 130 : Pengadilan agama dapat mengabulkan atau menolak permohonan tersebut, Dan terhadap keputusan tersebut dapat di minta upaya hukum banding dengan kasasi.

         Pasal 131 Ayat :

1.      Pengadilan agama yang bersangkutan mempelajari permohonan di maksud pada  pasal 129 Dan dalam waktu selambat-lambatnya tiga puluh hari memanggil pemohon Dan istrinyauntuk meminta penjelasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan maksud menjatuhkan thalaq.

2.      Setelah pengadilan agama tidak berhasil menasehati kedua belah pihak Dan ternyata cukup alas an untuk menjatuhkan thalaq serta yang bersangkutan tidak mungkin lagi hidup rukun dalam rumah tangga. Pengadilan agama menkeputusannya tentang izin bagi suami untuk mengikrarkan tholaq.

3.      Setelah keputusan mempunyai kekuatan hukum tetapi suami mengikrarkan tholaqnya depan sidang pengadilan agama, di hadiri oleh istri atau kuasanya.

4.      Bila suami tidak mengucapkan ikrar thalaq dalam tempat 6 bulan terhitung sejak putusan pengadilan agama tentang izin ikrar tholaq baginya mempunyai kekuatan hukum yang tetap, maka hak suami untuk mengikrarkan tholaq gugur Dan ikatan perkawinan tetap utuh.

5.      Setelah sidang penyaksian ikrar tholaq, pengadilan agama membuat penetapan tentang terjadinya tholaq rangkap empat yang merupakan bukti penceraian bagi bekas suami Dan istri.

Hari pertama beserta surat ikrar thalaq di kirimkan kepada pegawai pencatatan nikah yang mewilayahi tempat tinggal suami untuk di adakan pencatatan, helai kedua Dan ketiga masing-masing di berikan kepada suami istri, Dan helai keempat di simpan oleh pengadilan agama.

D.    Thalaq, Iddah, Ruju’, Dan hikmahnya

1.      Thalaq

Thalaq menurut bahasa berarti melepas tali, sedangkan menurut istilah adalah melepaskan ikatan perkawinan dari pihak suami kepada istrinya dengan mengucapkan lafadz tertentu. Thalaq itu berhukum halal, namun merupakan perbuatan yang di benci Allah.

Hukum thalaq dengan melihat kemaslahatan Dan keburukannya ada 4 macam :

         Wajib yaitu apabila perselisihan itu tidak bisa di selesaikan Dan di pandang perlu kiranya keduanya harus bercerai.

         Sunnah yaitu apabila suami tidak sanggup mencukupi nafkah istrinya atau istri tidak bisa menjaga kehormatan dirinya.

         Haram yaitu apabila suami menjatuhkan thalaq sewaktu istri dalam keadaan haid atau menjatuhkan thalaq sewaktu suci yang telah di campurinya dalam waktu suci itu.

         Makruh yaitu hukum asal dari perbuatan thalaq.

Ø      Rukun Dan Syarat Thalaq

1.      Suami yang menthalaq dengan syarat

2.      Mempunyai ikatan nikah yang sah dengan istri yang di thalaq.

3.      Baligh

4.      Berakal

5.      Kemauan sendiri

6.      Istri yang di thalaq dengan syarat

7.      Mempunyai ikatan nikah yang sah dengan suami yang menthalaq

8.      Dalam kekuasaan suami

9.      Ucapan thalaq

Ø      Macam-Macam Thalaq

1.      Di tinjau dari segi jumlahnya

2.      Thalaq satu, yaitu thalaq yang di tinjau pertama kali

3.      Thalaq dua, yaitu thalaq yang di jatuhkan kedua kalinya, atau pertama kalinya tetapi dengan dua thalaq sekaligus

4.      Tahalaq tiga, yaitu thalaq yang di jatuhkan ketiga kalinya, atau pertama kalinya tetapi di ucapkan tiga kali sekaligus

5.      Di tinjau dari segi di bolehkannya kembali atau tajdidun nikah atau ruju’

6.      Thalaq raj’i yaitu thalaq yang suaminya boleh ruju’ kembali dengan mantan istrinya

7.      Thalaq ba’in yaitu thalaq yang suaminya tidak boleh ruju’ kembali dengan mantan istrinya, kecuali dengan persyaratan tertentu.

Ø      Ditinjau dari segi jelas Dan tidak ucapan thalaq

         Kalimat Shohih                    Kalimat Kinayah

Seluruh ulama mazdhab sepakat bahwa seorang safih ( idiot ) di pandang sah talak Dan khulu’nya.[4]

 

 

 

2.      Iddah

Iddah adalah masa menunggu ( tidak boleh kawin )yang di wajibkan kepada wanita yang di cerai suaminya Dan ia sudah dijima’, atau wanita yang di tinggal mati suaminya baik sudah pernah di jima; atau belum.

Imam Hanafi, Maliki, Hambali mengatakan apabila suami telah berkhalwat dengan istrinya tetapi dia tidak sampai mencampurinya kemudian ia menceraikan istrinya maka istri wajib menjalani iddah seperti iddah orang yang telah dicampuri. Sedangakan Imam Syafi’i mengatakan bahwa khalwat tidak menimbulkan akibat apapun.[5]

3.      Ruju’

Yang di maksud ialah mengembalikan istri yang telah di thalaq ( bukan thalaq ba’in )pada pernikahan semula yang di lakukan dalam masa iddah dengan cara-cara tertentu. Firman Allah SWT :

 £`åkçJs9qãèç/ur‘,ymr&£`ÏdÏjŠtÎ/’Îûy7Ï9ºsŒ÷bÎ)(#ÿrߊ#u‘r&$[s»n=ô¹Î)4

Artinya : Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah.

Hukumnya ruju’ asalnya adalah ja’iz ( boleh )akan tetapi bisa wajib, haram, Dan makruh di karenakan beberapa hal :

a.       Wajib yaitu khusus bagi laki-laki yang beristri lebih dari satu. Jika salah seseorang istrinya di thalaq sebelum gilirannya di sempurnakan.

b.      Haram, apabila ruju’nya itu menyakiti si istri Dan penceraian itu lebih baik dari pada ruju’.

c.       Sunnah,  apabila di perkirakan ruju’ itu lebih baik Dan bermanfaat dari pada cerai bagi keduanya (suami isri).

d.      Makruh, apabila perempuan itu lebih baik Dan berfaedah dari pada di ruju’

 

 

 

Rukun Dan syarat Ruju’

a.       Suami yang meruju’ dengan syarat : berakal, baligh Dan tidak di paksa

b.      Istri yang diruju’dengan syarat :

         Sudah pernah di setubuhi 

          Ruju’ itu terjadi pada waktu istri masih dalam iddah

         Thalaqnya adalah thalaq raj’i

c.       Shigot (ucapan) ada dua macam

         Shohih (jelas)seperti “ Aku terima lagi “      

         Kinayah (sindiran) seperti “ aku pegang kamu “

d.      Saksi, yaitu dua orang yang adil.

Hikmah Ruju’

1.      Mewujudkan perdamaian

2.      Menghindarkan terjadinya perbuatan dosa

3.      Menghindarkan keretakan dalam rumah tangga

4.      Menjalin hubungan keluarga yang harmonis

5.      Mengayomi Dan mendidik anak

 

E.     Ketentuan Islam Tentang Pengasuhan Anak ( hadhaanah)

Akibat penceraian yang terjadi Dan meninggalkan anak, maka anak tersebut membutuhkan ada yang memelihara, menjaga, memimpin Dan mengatur segala hal bagi anak-anak yang belum dapat mengerti sampai mengetahui. Dalam pengasuhan itu ada beberapa tahap yaitu :

1.      Apabila anak itu masih kecil, maka ibunya lebih berhak untuk memeliharanya, kecuali kalau tidak tersedia memeliharanya di karenakan menikah dengan orang lain.

2.      Apabila anak sudah mengerti, pemeliharaanya terserah anak itu sendiri siapa yang ia sukai antara ayah Dan ibunya.

3.      Apabila anak kecil tadi tidak di ambil atau tidak didik, baik oleh bapaknya atau ibunya, maka sebaiknya anak itu di serahkan kepada saudaranya perempuan dari ibunya.

 

Syarat-syarat pemeliharaan anak ada tujuh, yaitu :

a.       Berakal, tidak boleh memelihara anak bagi orang gila

b.      Merdeka, tidak  boleh memelihara anak bagi orang budak

c.       Beragama islam, perempuan kafir tidak boleh memelihara anak muslim

d.      Iffah ( Dapat menjaga kehormatan dirinya )

e.       Amanah ( Dapat di percaya )

f.        Orang yang menetap di dalam negeri anak yang dididiknya

g.       Perempuan itu tidak bersuami, kecuali kalau dia bersuami dengan keluarga dari anak yang memang berhak pula untuk mendidik anak itu, maka haknya tetap.[6]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

 

·        Pernikahan adalah perjanjian atau aqad antara seorang laki-laki dengan perempuan untuk menghalalkan hubungan badan, dengan syarat Dan rukun yang di tentukan oleh syari’at islam.

·        Asal hukum menikan adalah sunnah

·        Pernikahan yang di larang adalah : Nikah mut’ah, nikah syighar, nikah muhallil, pernikahan silang, Dan pernikahan khadan.

·        Keluarga yang sakinah, mawaddah Dan rahmah akan dapat mewujudkan apabila keluarga di bangun di atas fondasi agama yang kuat, suami istri melaksanakan kewajibannya sebagai suami istri Dan masing-masing menerima haknya dengan baik.

·        Talak adalah melepaskan tali perkawinan yang diikat oleh aqad ( Ijab qabul )Dan mengakhiri hubungan suami istri.

·        Talak adalah perbuatan yang halal, tetapi dimurkai oleh Allah swt. Karenanya, talak hanya boleh terjadi sebagai pilihan terakhir ketika terjadi kemelut di dalam rumah tangga.

·        Khuluk adalah talak yang di jatuhkan oleh suami karena menyetujui permintaan istrinya dengan jalan sang istri member tebusan atau bayaran. Khuluk sering pula di sebut thalak tebus.

·        Rujuk adalah mengembalikan ikatan Dan hukum pernikahan setelah terputus, yang di lakukan oleh mantan suaminya terhadap mantan itrinya selama dalam masa iddah.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Djedjen Zainuddin, Mundzier Suparta, pendidikan agama islam ( Fiqih ), Semarang : PT Karya Toha Putra, 2010.

Karim, Sholih Zuhri, Fiqih Kurikulum berbasis kompetensi (KBK),  Surabaya : Milik kanwil Departemen Agama profinsi Jawa Timur, 2005.

Al-Ustadz Al-Khafif, Dalam Kitabnya Yang Berjudul  FiraqAl Zaqaj

Muhammad Jawad Mughniyah, Fiqih Lima Mazhab, Jakarta : Lentera, 2010.


[1]Djedjen Zainuddin, Mundzier Suparta, pendidikan agama islam ( Fiqih ), ( Semarang : PT Karya Toha Putra, 2010 ), 66

[2] Karim, Sholih Zuhri, Fiqih Kurikulum berbasis kompetensi (KBK), ( Surabaya : Milik kanwil Departemen Agama profinsi Jawa Timur, 2005 ), 46.

[3] Slamet Abidin Dan Aminuddin, Fiqih Munakahat, ( Bandung : Pustaka Setia,1999 ), 68

[4] Al-Ustadz Al-Khafif, Dalam Kitabnya Yang Berjudul  FiraqAl Zaqaj,  57

[5] Muhammad Jawad Mughniyah, Fiqih Lima Mazhab, ( Jakarta : Lentera, 2010 ), 464

[6] Djedjen Zainuddin, Mundzier Suparta, pendidikan agama islam ( Fiqih ), ( Semarang : PT Karya Toha Putra, 2010 ),  94-95

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.