A.     Pengertian, Hukum Dan Hikmah Menikah

 

1.      Pengertian Nikah

Nikah menurut bahasa berarti mengumpulkan atau menjodohkan, sedangkan menurut syara’ adalah suatu akad yang menghalalkan pergaulan antara laki-laki Dan perempuan yang bukan muhrim dengan ketetapan hukum yang berlaku. Seperti firman Allah :

÷(#qßsÅ3R$$sù$tBz>$sÛNä3s9z`ÏiBÏä!$|¡ÏiY9$#4Óo_÷WtBy]»n=èOuryì»t/â‘ur(÷bÎ*sùóOçFøÿÅzžwr&(#qä9ω÷ès?¸oy‰Ïnºuqsù 

Artinya : “ Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja.”.[1]

2.      Hukum Nikah

a.       Sunnah

Jumhur ulama’ sepakat bahwa hukum asal pernikahan adalah sunnah. Mereka berdasarkan pada firman Allah Q.S An Nur 24(32)

(#qßsÅ3Rr&ur4‘yJ»tƒF{$#óOä3ZÏBtûüÅsÎ=»¢Á9$#urô`ÏBö/ä.ϊ$t6ÏãöNà6ͬ!$tBÎ)ur4bÎ)(#qçRqä3tƒuä!#ts)èùãNÎgÏYøóリ!$#`ÏB¾Ï&Î#ôÒsù3ª!$#urììřºurÒOŠÎ=tæÇÌËÈ  

Artinya : Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui.

b.      Mubah

Hukum nikah mubah bagi seseorang yang tidak mempunyai factor pendorong atau factor melarang untuk nikah ( sedang-sedang saja ).

c.       Wajib

Bagi orang yang mampu jasmani , rohani Dan materi sedang dorongan seksual telah mencapai puncak untuk segera di salurkan, apabila tidak sangat mungkin akan terjebak pada perbuatan fakhisyah ( zina ).

d.      Makruh

Bagi orang yang secara jasmani Dan rohani cukup matang tapi secara materi masih belum mampu mencukupi kebutuhan keluarga.

e.       Haram

Bagi seorang yang tujuan menikahnya hanya sekedar ingin menyakiti wanita atau mempermainkan wanita.[2]

3.      Pengertian Dan Hukum Khitbah

Yang di maksud khitbah atau meminang adalah pernyataan atau ajakan untuk menikah dari pihak laki-laki terhadap pihak perempuan.

Sedangkan hukum meminang adalah boleh ( Mubah ) dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut :

1.      Perempuan yang di pinang harus memenuhi syarat sebagai berikut :

a.       Tidak terakat oleh akad pernikahan.

b.      Tidak berada dalam masa iddah talak raj’i

c.       Bukan pinangan laki-laki lain.

2.      Cara mengajukan pinangan

a.       Pinangan kepada gadis atau janda yang sudah habis masa iddahnya boleh di nyatakan secara terang-terangan.

b.      Pinangan janda yang yang masih dalam talak bain atau iddah di tinggsl wafat suaminya, tidak boleh di nyatakan secara terang-terangan. Pinangan terhadap mereka hanya boleh dilakukan secara sendiri saja.

 

 

4.      Melihaat Wanita Yang Akan Di Nikahi

Melihat wanika yang akan di nikahi, di anjurkan bahkan di sunnahkan agama. Melihat calon istri untuk mengetahui penampilan Dan kecantikannya, di pandang perlu untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang bahagia sekaligus menghindari penyesalan setelah menikah.

5.      Prinsip Kafa’ah Dalam Pernikahan

Menurut bahasa kafa’ah adalah serupa, seimbang, atau serasi, menurut istilah adalah keseimbangan Dan keserasian antara calon istri Dan suami , baik dalam kedudukan, status sosial, akhlak maupun kekayaannya, sehingga masing-masing calon tidak merasa berat untuk melangsungkan perkawinan.

6.      Pengertian Mahram Nikah Dan Pembagiannya

Yang di maksud mahram adalah perempuan-perempuan yang  haram atau tidak boleh dinikahi, baik di sebabkan oleh factor keturunan, persusuan maupun perkawinan.

a.       Factor perkawinan

-          Ibu

-          Ibu dari ibu ( nenek )Dan seterusnya ke atas

-          Anak, cucu, Dan seterusnya ke bawah.

-          Saudara perempuan kandung, saudara perempuan seayah, Dan saudara seibu.

-          Saudara perempuan ayah.

-          Saudara perempuan ibu.

-          Anak perempuan dari saudara laki-laki Dan seterusnya ke bawah.

-          Anak perempuan dari saudara perempuan Dan seterusnya kebawah.

b.      Factor persusuan

-          Ibu yang menyusui

-          Saudara perempuan sepersusuan

c.       Factor perkawinan

-          Ibu Dan istri ( mertua )

-          Anak tiri jika ibunya sudah di gauli

-          Istri dari anak ( menantu )

-          Istri bapak ( Ibu Tiri )

7.      Rukun Nikah

Rukun Nikah ada 5 :

1.      Mempelai laki-laki

2.      Mempelai perempuan

3.      Wali

4.      Dua prang saksi

5.      Shigat ijab qabul[3]

 

8.      Hikmah Nikah

 

ô`ÏBurÿ¾ÏmÏG»tƒ#uä÷br&t,n=y{/ä3s9ô`ÏiBöNä3Å¡àÿRr&%[`ºurø—r&(#þqãZä3ó¡tFÏj9$ygøŠs9Î)Ÿ@yèy_urNà6uZ÷t/Zo¨Šuq¨BºpyJômu‘ur4¨bÎ)’Îûy7Ï9ºsŒ;M»tƒUy5Qöqs)Ïj9tbr㍩3xÿtGtƒÇËÊÈ  

Artinya : Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

Antara Lain :

1.      Dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT

2.      Dapat menenangkan Dan menentramkan hati nurani

3.      Dapat menciptakan ukhwah islamiyyah

4.      Dapat menjadikan keluarga sakinah, mawaddah warohmah

5.      Dapat memperbanyak keturunan Dan amal perbuatan

 

 

9.      Macam-macam Pernikahan Terlarang

-          Nikah Mut’ah : yaitu nikah yang di niatkan hanya untuk bersenang-senang Dan hanya untuk jangka waktu seminggu, sebulan, setahun dst.

-          Nikah Sighrah : yaitu pernikahan yang di dasarkan kepada janji atau kesepakatan penukaran. Yaitu menjadikan dua orang perempuan sebagai mahar atau jaminan masing-masing.

-          Nikah Muhallil : yaitu pernikahan yang di lakukan oleh seseorang dengan tujuan untuk menghalalkan perempuan yang di nikahinya agar di nikahi lagi oleh mantan suaminya yang telah menalak tiga.

-          Pernikahan Silang : pernikahan antara laki-laki dengan perempuan yang berbeda agama atau keyakinan.

-          Pernikahan khadan : Khadan artinya gundik atau piaraan, baik laki-laki yang menjadikan wanita sebagai gundik maupun wanita yang menjadikan laki-laki sebagai gundik.

-          Menikahi wanita yang berzina

’ÎT#¨“9$#ŸwßxÅ3ZtƒžwÎ)ºpuŠÏR#y—÷rr&Zpx.Ύô³ãBèpu‹ÏR#¨“9$#urŸw!$ygßsÅ3ZtƒžwÎ)Ab#y—÷rr&Ô8Ύô³ãB4tPÌhãmury7Ï9ºsŒ’n?tãtûüÏZÏB÷sßJø9$#     

Artinya : Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin.(Qs An-Nur)

10.   Hikmah Adanya Pernikahan Terlarang

-          Mengangkat harkat Dan martabat manusia, bahwa manusia berbeda dengan binatang.

-          Manusia tidak seenaknya menik

-          ah atau mencari jodoh.

-          Terhindar dari pernikahan inses.

-          Terhindar adanya penganiyaan.

 

 

B.     Wali, Saksi, Ijab Qabul, Dan Walimah

 

Ø      Wali

Wali adalah orang yang berhak menikahkan perempuan dengan laki-laki sesuai dengan syari’at islam.

·        Macam-macam wali :

-          Wali Mujbir : yaitu wali yang mempunyai hak menikahkan orang yang di walikan tanpa minta izin Dan menanyakan terlebih dahulu pendapat mereka.

-          Wali hakim

-          Wali Adhal : yaitu wali yang enggan atau menolak untuk menikahkan perempuan yang ada di bawah kewaliannya.

Ø      Ijab Qabul  

Ijab qabul adalah ucapan penyerahan yang dilakukan oleh wali mempelai perempuan Dan penerimaan oleh mempelai laki-laki.

Ø      Mahar

Mahar adalah mas kawin, yaitu suatu pemberian dari pihak laki-laki kepada pihak perempun di sebabkan terjadinya pernikahan.

Ø      Walimah

Walimatun nikah nikah adalah pesta yang di selenggarakan setelah di laksanakannya akad nikah dengan menghidangkan berbagai jamuan yang biasanya di sesuaikan dengan adat setempat

 

C.     Proses Pernikahan Dalam Hukum Indonesia

Di Indonesia masalah perkawinan di atas dalam UU perkawinan No.1 Th 1974, Undang-undang tersebut di buat dengan mempertimbangkan bahwa falsafah Negara Republik Indonesia adalah pancasila, maka perlu di buat undang-undang perkawinan yang berlaku bagi semua warga Negara.

 

 

·        Batasan Umur

Untuk kemaslahatan keluarga Dan rumah tangga, perkawinan hanya boleh di lakukan calon mempelai yang telah mencapai umur yang sudah di tetapkan dalam undang-undang No 1 tahun 1974, yaitu ; menerangkan tentang :

-         Pihak pria ( calon suami )sekurang-kurangnya sudah mencapai umur        19 tahun.

-         Pihak Wanita ( calon istri )sekurang-kurangnya sudah mencapai umur                16 tahun.

Pasal 7 ayat 2 menerangkan, dalam hal penyimpangan terhadap ayat 1 dapat meminta dispensasi kepada pengadilan atau pejabat lain yang di tunjuk oleh kedua orang tua pihak putra maupun pihak wanita.

·        Pencatatan Perkawinan

Pencatatan nikah di lakukan oleh pegawai pencatatan nikah ( biasanya KUA ), sedangkan perkawinan selain agama islam dilakukan oleh pegawai pencatatan perkawinan pada kantor catatan sipil.

·        Penceraian Di Depan Pengadilan Agama

Di dalam kompilasi hukum islam terdapat tata cara penceraian ( thalaq )di depan pengadilan, yaitu :

-         Pasal 129 : seorang suami yang akan menjatuhkan thalaq kepada isrinya, mengajukan permohonan baik lisan maupun tertulis kepada pengadilan agama yang mewilayahi tempat tinggal istri di sertai dengan alas an serta meminta agar di adakan sidang untuk keperluan itu.

-         Pasal 130 : Pengadilan agama dapat mengabulkan atau menolak permohonan tersebut, Dan terhadap keputusan tersebut dapat di minta upaya hukum banding dengan kasasi.

-         Pasal 131 Ayat :

1.      Pengadilan agama yang bersangkutan mempelajari permohonan di maksud pada  pasal 129 Dan dalam waktu selambat-lambatnya tiga puluh hari memanggil pemohon Dan istrinyauntuk meminta penjelasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan maksud menjatuhkan thalaq.

2.      Setelah pengadilan agama tidak berhasil menasehati kedua belah pihak Dan ternyata cukup alas an untuk menjatuhkan thalaq serta yang bersangkutan tidak mungkin lagi hidup rukun dalam rumah tangga. Pengadilan agama menkeputusannya tentang izin bagi suami untuk mengikrarkan tholaq.

3.      Setelah keputusan mempunyai kekuatan hukum tetapi suami mengikrarkan tholaqnya depan sidang pengadilan agama, di hadiri oleh istri atau kuasanya.

4.      Bila suami tidak mengucapkan ikrar thalaq dalam tempat 6 bulan terhitung sejak putusan pengadilan agama tentang izin ikrar tholaq baginya mempunyai kekuatan hukum yang tetap, maka hak suami untuk mengikrarkan tholaq gugur Dan ikatan perkawinan tetap utuh.

5.      Setelah sidang penyaksian ikrar tholaq, pengadilan agama membuat penetapan tentang terjadinya tholaq rangkap empat yang merupakan bukti penceraian bagi bekas suami Dan istri.

Hari pertama beserta surat ikrar thalaq di kirimkan kepada pegawai pencatatan nikah yang mewilayahi tempat tinggal suami untuk di adakan pencatatan, helai kedua Dan ketiga masing-masing di berikan kepada suami istri, Dan helai keempat di simpan oleh pengadilan agama.

D.    Thalaq, Iddah, Ruju’, Dan hikmahnya

1.      Thalaq

Thalaq menurut bahasa berarti melepas tali, sedangkan menurut istilah adalah melepaskan ikatan perkawinan dari pihak suami kepada istrinya dengan mengucapkan lafadz tertentu. Thalaq itu berhukum halal, namun merupakan perbuatan yang di benci Allah.

Hukum thalaq dengan melihat kemaslahatan Dan keburukannya ada 4 macam :

-         Wajib yaitu apabila perselisihan itu tidak bisa di selesaikan Dan di pandang perlu kiranya keduanya harus bercerai.

-         Sunnah yaitu apabila suami tidak sanggup mencukupi nafkah istrinya atau istri tidak bisa menjaga kehormatan dirinya.

-         Haram yaitu apabila suami menjatuhkan thalaq sewaktu istri dalam keadaan haid atau menjatuhkan thalaq sewaktu suci yang telah di campurinya dalam waktu suci itu.

-         Makruh yaitu hukum asal dari perbuatan thalaq.

Ø      Rukun Dan Syarat Thalaq

1.      Suami yang menthalaq dengan syarat

2.      Mempunyai ikatan nikah yang sah dengan istri yang di thalaq.

3.      Baligh

4.      Berakal

5.      Kemauan sendiri

6.      Istri yang di thalaq dengan syarat

7.      Mempunyai ikatan nikah yang sah dengan suami yang menthalaq

8.      Dalam kekuasaan suami

9.      Ucapan thalaq

Ø      Macam-Macam Thalaq

1.      Di tinjau dari segi jumlahnya

2.      Thalaq satu, yaitu thalaq yang di tinjau pertama kali

3.      Thalaq dua, yaitu thalaq yang di jatuhkan kedua kalinya, atau pertama kalinya tetapi dengan dua thalaq sekaligus

4.      Tahalaq tiga, yaitu thalaq yang di jatuhkan ketiga kalinya, atau pertama kalinya tetapi di ucapkan tiga kali sekaligus

5.      Di tinjau dari segi di bolehkannya kembali atau tajdidun nikah atau ruju’

6.      Thalaq raj’i yaitu thalaq yang suaminya boleh ruju’ kembali dengan mantan istrinya

7.      Thalaq ba’in yaitu thalaq yang suaminya tidak boleh ruju’ kembali dengan mantan istrinya, kecuali dengan persyaratan tertentu.

Ø      Ditinjau dari segi jelas Dan tidak ucapan thalaq

-         Kalimat Shohih                -    Kalimat Kinayah

Seluruh ulama mazdhab sepakat bahwa seorang safih ( idiot ) di pandang sah talak Dan khulu’nya.[4]

 

 

 

2.      Iddah

Iddah adalah masa menunggu ( tidak boleh kawin )yang di wajibkan kepada wanita yang di cerai suaminya Dan ia sudah dijima’, atau wanita yang di tinggal mati suaminya baik sudah pernah di jima; atau belum.

Imam Hanafi, Maliki, Hambali mengatakan apabila suami telah berkhalwat dengan istrinya tetapi dia tidak sampai mencampurinya kemudian ia menceraikan istrinya maka istri wajib menjalani iddah seperti iddah orang yang telah dicampuri. Sedangakan Imam Syafi’i mengatakan bahwa khalwat tidak menimbulkan akibat apapun.[5]

3.      Ruju’

Yang di maksud ialah mengembalikan istri yang telah di thalaq ( bukan thalaq ba’in )pada pernikahan semula yang di lakukan dalam masa iddah dengan cara-cara tertentu. Firman Allah SWT :

 £`åkçJs9qãèç/ur‘,ymr&£`ÏdÏjŠtÎ/’Îûy7Ï9ºsŒ÷bÎ)(#ÿrߊ#u‘r&$[s»n=ô¹Î)4

Artinya : Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah.

Hukumnya ruju’ asalnya adalah ja’iz ( boleh )akan tetapi bisa wajib, haram, Dan makruh di karenakan beberapa hal :

a.       Wajib yaitu khusus bagi laki-laki yang beristri lebih dari satu. Jika salah seseorang istrinya di thalaq sebelum gilirannya di sempurnakan.

b.      Haram, apabila ruju’nya itu menyakiti si istri Dan penceraian itu lebih baik dari pada ruju’.

c.       Sunnah,  apabila di perkirakan ruju’ itu lebih baik Dan bermanfaat dari pada cerai bagi keduanya (suami isri).

d.      Makruh, apabila perempuan itu lebih baik Dan berfaedah dari pada di ruju’

 

 

 

Rukun Dan syarat Ruju’

a.       Suami yang meruju’ dengan syarat : berakal, baligh Dan tidak di paksa

b.      Istri yang diruju’dengan syarat :

-         Sudah pernah di setubuhi 

-          Ruju’ itu terjadi pada waktu istri masih dalam iddah

-         Thalaqnya adalah thalaq raj’i

c.       Shigot (ucapan) ada dua macam

-         Shohih (jelas)seperti “ Aku terima lagi “      

-         Kinayah (sindiran) seperti “ aku pegang kamu “

d.      Saksi, yaitu dua orang yang adil.

Hikmah Ruju’

1.      Mewujudkan perdamaian

2.      Menghindarkan terjadinya perbuatan dosa

3.      Menghindarkan keretakan dalam rumah tangga

4.      Menjalin hubungan keluarga yang harmonis

5.      Mengayomi Dan mendidik anak

 

E.     Ketentuan Islam Tentang Pengasuhan Anak ( hadhaanah)

Akibat penceraian yang terjadi Dan meninggalkan anak, maka anak tersebut membutuhkan ada yang memelihara, menjaga, memimpin Dan mengatur segala hal bagi anak-anak yang belum dapat mengerti sampai mengetahui. Dalam pengasuhan itu ada beberapa tahap yaitu :

1.      Apabila anak itu masih kecil, maka ibunya lebih berhak untuk memeliharanya, kecuali kalau tidak tersedia memeliharanya di karenakan menikah dengan orang lain.

2.      Apabila anak sudah mengerti, pemeliharaanya terserah anak itu sendiri siapa yang ia sukai antara ayah Dan ibunya.

3.      Apabila anak kecil tadi tidak di ambil atau tidak didik, baik oleh bapaknya atau ibunya, maka sebaiknya anak itu di serahkan kepada saudaranya perempuan dari ibunya.

 

Syarat-syarat pemeliharaan anak ada tujuh, yaitu :

a.       Berakal, tidak boleh memelihara anak bagi orang gila

b.      Merdeka, tidak  boleh memelihara anak bagi orang budak

c.       Beragama islam, perempuan kafir tidak boleh memelihara anak muslim

d.      Iffah ( Dapat menjaga kehormatan dirinya )

e.       Amanah ( Dapat di percaya )

f.        Orang yang menetap di dalam negeri anak yang dididiknya

g.       Perempuan itu tidak bersuami, kecuali kalau dia bersuami dengan keluarga dari anak yang memang berhak pula untuk mendidik anak itu, maka haknya tetap.[6]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

 

·        Pernikahan adalah perjanjian atau aqad antara seorang laki-laki dengan perempuan untuk menghalalkan hubungan badan, dengan syarat Dan rukun yang di tentukan oleh syari’at islam.

·        Asal hukum menikan adalah sunnah

·        Pernikahan yang di larang adalah : Nikah mut’ah, nikah syighar, nikah muhallil, pernikahan silang, Dan pernikahan khadan.

·        Keluarga yang sakinah, mawaddah Dan rahmah akan dapat mewujudkan apabila keluarga di bangun di atas fondasi agama yang kuat, suami istri melaksanakan kewajibannya sebagai suami istri Dan masing-masing menerima haknya dengan baik.

·        Talak adalah melepaskan tali perkawinan yang diikat oleh aqad ( Ijab qabul )Dan mengakhiri hubungan suami istri.

·        Talak adalah perbuatan yang halal, tetapi dimurkai oleh Allah swt. Karenanya, talak hanya boleh terjadi sebagai pilihan terakhir ketika terjadi kemelut di dalam rumah tangga.

·        Khuluk adalah talak yang di jatuhkan oleh suami karena menyetujui permintaan istrinya dengan jalan sang istri member tebusan atau bayaran. Khuluk sering pula di sebut thalak tebus.

·        Rujuk adalah mengembalikan ikatan Dan hukum pernikahan setelah terputus, yang di lakukan oleh mantan suaminya terhadap mantan itrinya selama dalam masa iddah.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Djedjen Zainuddin, Mundzier Suparta, pendidikan agama islam ( Fiqih ), Semarang : PT Karya Toha Putra, 2010.

Karim, Sholih Zuhri, Fiqih Kurikulum berbasis kompetensi (KBK),  Surabaya : Milik kanwil Departemen Agama profinsi Jawa Timur, 2005.

Al-Ustadz Al-Khafif, Dalam Kitabnya Yang Berjudul  FiraqAl Zaqaj

Muhammad Jawad Mughniyah, Fiqih Lima Mazhab, Jakarta : Lentera, 2010.


[1]Djedjen Zainuddin, Mundzier Suparta, pendidikan agama islam ( Fiqih ), ( Semarang : PT Karya Toha Putra, 2010 ), 66

[2] Karim, Sholih Zuhri, Fiqih Kurikulum berbasis kompetensi (KBK), ( Surabaya : Milik kanwil Departemen Agama profinsi Jawa Timur, 2005 ), 46.

[3] Slamet Abidin Dan Aminuddin, Fiqih Munakahat, ( Bandung : Pustaka Setia,1999 ), 68

[4] Al-Ustadz Al-Khafif, Dalam Kitabnya Yang Berjudul  FiraqAl Zaqaj,  57

[5] Muhammad Jawad Mughniyah, Fiqih Lima Mazhab, ( Jakarta : Lentera, 2010 ), 464

[6] Djedjen Zainuddin, Mundzier Suparta, pendidikan agama islam ( Fiqih ), ( Semarang : PT Karya Toha Putra, 2010 ),  94-95

About these ads